Janatin dan Tohir


Catatan Must Prast

Pada 16 Oktober 1968 pukul empat sore atau sehari sebelum eksekusi mati terhadap Sersan KKo Usman dan Kopral KKo Harun, Brigjen TNI Tjokropranolo berkunjung sebagai utusan pribadi Presiden Soeharto. Penjagaan di Penjara Changi, Singapura, amat ketat.

Saat bersua, Usman dan Harun langsung ambil sikap sempurna dan memberikan hormat militer. Tjokropranolo tak kuasa menahan haru. Diplomasi pemerintah Indonesia kepada Presiden Singapura Yusuf bin Ishak agar dua prajurit ALRI itu diberikan pengampunan dari hukuman gantung ditolak.

Usman yang bernama asli Janatin adalah pemuda asli Purbalingga, sedangkan Harun ialah nama samaran dari Tohir asal Pulau Bawean, Gresik. Keduanya anggota KKo (Korps Komando, kini Marinir) ALRI yang ikut dalam Operasi Dwikora pada 1965.

Mereka terlibat dalam Operasi A KOTI di wilayah basis II dengan sasaran Singapura. Masuk dalam Tim Brahma I, subbasis mereka bertempat di Pulau Sambu, Riau. Layaknya sukarelawan Dwikora lainnya, mereka menyamar sebagai pedagang untuk bisa masuk ke Negeri Kepala Singa.

Janatin alias Usman bin Haji Muhammad Ali menjadi pimpinan regu. Anggotanya adalah Tohir alias Harun bin Said dan Gani bin Arup. Maret 1965 ketiganya mengintai tempat-tempat di Singapura dan akhirnya memutuskan untuk meledakkan Hotel MacDonald di pusat keramaian Orchard Road. Mereka membawa 12,5 kilogram peledak.

Ledakan itu menewaskan tiga orang, 35 lainnya luka berat dan ringan, 20 toko rusak berat, serta 24 kendaraan roda empat hancur. Gani berhasil meloloskan diri. Sementara Usman dan Harun tertangkap patroli militer Singapura saat motorboat mereka macet di tengah laut.

Dalam sidang Pengadilan Tinggi Singapura pada 4 Oktober 1965, permintaan Usman dan Harun agar dianggap sebagai tawanan perang lantaran kondisi perang ditolak hakim. Alasannya, mereka dibekuk saat tidak memakai seragam militer.

Pada 20 Oktober tahun yang sama, Usman dan Harun divonis hukuman mati oleh hakim J. Chua. Pada subuh 17 Oktober 1968, mereka sempat shalat dahulu sebelum disuntik bius dan dipancung.

Presiden Soeharto langsung menetapkan keduanya sebagai pahlawan nasional dan sebelumnya mengatakan bahwa Usman (Sersan KKo Janatin) dan Harun (Kopral KKo Tohir) akan selalu dikenang masyarakat Indonesia.

***

Hari-hari ini sumbu hubungan Indonesia dan Singapura memanas. Pemicunya, salah satu kapal perang RI (KRI) diberi nama Usman-Harun. Pemerintah Singapura protes. Mereka menilai nama KRI Usman-Harun sangat melukai hati warga Singapura.

Singapura menganggap Usman dan Harun adalah teroris. Panglima TNI Jenderal Moeldoko buru-buru menyanggah bahwa penamaan itu sudah sesuai prosedur dan hak pemerintah Indonesia. Tindakan Usman dan Harun pada 1965 dianggap bisa dipahami karena suasana konfrontasi.

Di luar hubungan emosional dengan TNI-AL, saya menyambut positif hadirnya KRI Usman-Harun. Setidaknya perselisihan ini bisa mengingatkan kembali masyarakat Indonesia pada sosok Janatin dan Tohir yang nyaris tidak banyak diketahui generasi muda sekarang dalam buku-buku pelajaran sejarah.

Sidoarjo, 13 Februari 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 18, 2014, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: