FBS


Catatan Must Prast

Di zaman IKIP, namanya adalah FPBS. Kepanjangannya fakultas pendidikan bahasa dan seni. Sebelumnya lagi istilahnya ialah FKSS atau fakultas keguruan sastra seni. FKSS ditetapkan bertepatan dengan peresmian IKIP Surabaya pada 19 Desember 1964 di Jalan Kayoon.

Saat mendaftar UMPTN (ujian masuk perguruan tinggi negeri), saya hanya menulis satu pilihan kampus negeri. Tidak dua atau tiga seperti kawan-kawan lainnya. Kampus tersebut adalah IKIP Surabaya dengan fakultas bahasa dan seni (FBS). Ndilalah diterima.

Bersama para maba lainnya, saya mengikuti ospek di kampus Ketintang. Saya sempat gembira karena kampusnya lumayan asri. Sayangnya, luapan bahagia itu hanya berlangsung sehari. Keesokan hari saya dan kawan-kawan maba dari FBS, FIP, dan FIK angkatan 1999 harus rela menerima kenyataan bahwa kampus kami di Lidah Wetan gersang. Bukan gersang yang artinya seger-seger merangsang, tapi gersang betulan. 

Saat angkatan kami tersebut, IKIP Surabaya resmi berubah nama menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kampus Ketintang menjadi pusat rektorat dan tempat belajar untuk mahasiswa FMIPA, FT, FIS (kini ada FE), dan pascasarjana.

Untunglah saya masuk FBS. Fakultas ini dikenal rajin melahirkan sastrawan-sastrawan dan seniman. Bonari Nabonenar, Tjahjono Widarmanto, Rakhmat Giryadi, A. Muttaqien, Fauzi Ballah, dan Set Wahedi adalah sedikit di antara deretan sastrawan yang pernah mengenyam pendidikan di FBS.

Tetapi, bukan hanya daya tarik itu yang bikin saya bersyukur masuk FBS. Magnet terbesar adalah bidadari-bidadari FBS yang datang dari berbagai kota, desa, hingga dusun paling terpencil yang tidak ada di atlas. Betul, FBS hampir memonopoli jumlah mahasiswi cantik dan resik-resik. Bikin kuliah semakin semangat.

FBS juga menjadi fakultas paling meriah, paling kreatif, dan paling heboh. Tak heran jika banyak mahasiswa dari fakultas lain yang iri. Mahasiswa FBS juga sering mengadakan kegiatan yang mengasah kreativitas. Inilah yang kemudian banyak mendorong para mahasiswa FBS dalam menelurkan karya saat sudah mengabdi di masyarakat.

Tak keliru apabila banyak penulis kesohor yang lahir di FBS. Baru-baru ini sohib sekaligus senior saya, H. Bahtiar Arifin, mewujudkan mimpi gilanya. Ia meluncurkan buku Resolusi Puisi yang ditulisnya dalam waktu seminggu sejak akhir Desember 2013 hingga awal Januari 2014.

Sampulnya gelap, nyaris menyaingi warna kulitnya. Kegaharannya saat menjadi mahasiswa IKIP Surabaya angkatan 1994 tertutupi oleh senyumnya yang seolah menanggung beban masa depan bangsa ini.

Mas Heru, demikian saya biasa menyapanya, membuktikan bahwa FBS selalu menjadi fakultas buat selebriti. Penulis seleb, jurnalis seleb, dan kini menjadi politikus seleb. Sampulnya itu lho,mana tahaaan. Senyum di cover tersebut pasti bikin meleleh para perempuan yang memandangnya. Komentar saya terhadap buku ini cuma satu: JUANGKRIK!

Sidoarjo, 11 Februari 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 18, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: