Saat Natsir Melahap Satu Minggu Satu Buku


Tjatatan Must Prast

Moh. Natsir (SUmber: harapan-umat.blogspot.com)

Moh. Natsir (SUmber: harapan-umat.blogspot.com)

Mohammad Natsir adalah sosok langka di Indonesia. Ia termasuk orang yang ucapan dan perbuatannya sejalan. Tokoh puritan yang lurus, namun demokratis.

Jauh sebelum mendirikan Partai Masjumi dan menjadi pejabat pada era awal kemerdekaan, Natsir muda dikenal sebagai orang yang selalu memuliakan buku. Ia menyelesaikan MULO (setingkat SMP) di Padang.

Ia lancar menulis dalam bahasa Belanda, namun tidak fasih ketika berbicara coro Londo. Saat lulus ia melanjutkan AMS (setingkat SMU) di Bandung. Karena tak mahir ngobrol dalam bahasa Belanda, ia pernah diremehkan gurunya yang asli Londo.

”Kamu dari MULO mana?” tanya sang guru yang meneer Belanda.

”MULO Padang,” jawab Natsir.

”Oh, pantas…” ucap gurunya dengan sinis.

Diremehkan seperti ini membuat Natsir menyimpan kesumat. Natsir masuk AMS Afdeling A-II (studi sastra dan humaniora Barat) karena mendapat beasiswa Rp 30. AMS diperuntukkan bagi lulusan MULO yang ingin melanjutkan sekolah tapi tak mungkin diterima di HBS yang dikhususkan buat anak-anak Belanda, Eropa, dan elite priyayi.

Sebagai anak juru tulis, Natsir tergolong cerdas. Nilai-nilainya bagus sehingga diganjar beasiswa di AMS Bandung.

Diejek tak fasih berbahasa Belanda bikin Natsir rajin mengganyang banyak bacaan. Tiap sore ia mempelajari bahasa Latin. Selepas magrib, ia melanjutkan belajar pelajaran sekolah. Tak ada libur.

Tempat favoritnya adalah perpustakaan Gedung Sate untuk melahap buku-buku bahasa Belanda di bibliotek. Targetnya satu pekan satu buku. Ia juga memberanikan diri bercakap-cakap dalam bahasa Belanda.

Hingga akhirnya ia mampu menyabet juara I lomba deklamasi berbahasa Belanda. Waktu itu ia membaca syair karangan Multatuli yang berjudul De Bandjir. Sebagai hadiah, Natsir mendapat buku Waar Mensen Tigger Buren Zijn (Manusia dan Macan Hidup Sejiran). ”Setidaknya nama MULO Padang yang selama ini diejek sudah terhapus,” tulis Natsir dalam surat kepada anak-anaknya 54 tahun silam.

Kota Delta, 28 Januari 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Januari 28, 2014, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: