Sowan Dateng Tuban (1)


Tjatatan Must Prast

Sabtu, 25 Januari 2014, saya menemani Direktur Sirikit School of Writing (SSW) Sirikit Syah ke SD Bina Anak Sholeh (BAS) Tuban. Sekolah ini disebut-sebut sebagai SD Al Hikmah-nya Tuban.

Di Surabaya, nama SD Al Hikmah memang kesohor sebagai salah satu sekolah dasar elite. SD BAS terletak persis di pusat kota tempat Sunan Bonang dimakamkan ini, tepatnya di Jalan Wahidin Sudirohusodo 45.

Begitu memasuki area sekolah, saya baru mafhum mengapa SD ini menjadi salah satu sekolah elite di Tuban. Di situ Masjid Al Falah yang arsitekturnya menawan. Bangunannya sendiri bergaya Turki.

Kantin sekolahnya juga cukup luas karena tidak hanya menampung siswa SD, tapi juga pelajar SMP BAS. Betul, SD BAS merupakan satu kompleks dengan PG/TK dan SMP BAS. Gedung SMP-nya di timur masjid tak kalah dengan sekolah Petra dan Al Hikmah di Surabaya. Megah.

Ruang kelas III A dan III B di lantai tiga menjadi tempat pelatihan yang bertajuk Menulis Itu Mudah tersebut. Sirikit langsung yang memandu kegiatan yang diikuti 56 siswa-siswi dari kelas 4, 5, dan 6 itu.

Kami disambut oleh seorang mahmud (mamah muda) yang juga kompatriot kami di IKIP Surabaya, yakni Hariyani Fatawi a.k.a. Mbak Icha. Ia termasuk anggota komite sekolah yang mengadakan kegiatan tersebut.

Keluarga alumni IKIP Surabaya, terutama yang kerap bertegur sapa di milis, sedang dilanda demam serabi. Karena itu, dengan nada bercanda saya bilang ke Mbak Icha bahwa saya mendambakan serabi Tuban yang terkenal itu.

Di kelas, saya ikut memberikan teknik menulis yang mudah sehingga bisa menjadi sarana hiburan sekaligus edukasi bagi anak-anak. Mereka mengikutinya dengan antusias. Saya sendiri tak kalah antusias karena ternyata di atas meja sudah menunggu serabi Tuban.

Penganan tradisional ini dibungkus daun pisang dengan tekstur montok karena isinya memang dobel. Ada warga sekitar yang menyebutnya serabi tumpuk lantaran memang tampak bertumpuk.

Rasanya lebih asin dibandingkan serabi yang pernah saya beli di Pasar Keputran Surabaya. Kalau di Surabaya serabinya diberi kuah dari gula merah, serabi Tuban memiliki kuah pula. Namun, kuahnya terbuat dari santan yang rasanya juga sedikit asin.

Sebenarnya saya sowan ke Tuban dalam kondisi tenggorokan kurang fit. Tetapi, begitu bersua dengan makanan yang terlihat ginuk-ginuk itu, tenggorokan tambah serik. Kapok koen!

Sidoarjo, 26 Januari 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Januari 25, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: