Pojok Bahasa: Dimatikan


Tjatatan Must

Prast

Hal ini mungkin sudah banyak dibahas di beberapa forum. Ada pula yang menjadikannya sebagai guyonan atau bahan ledekan. Namun, ternyata masih banyak orang yang tidak sadar atau bahkan tidak tahu mengenai hal ini. Apa itu?

Setiap mengikuti salat Jumat, sebelum khatib naik mimbar saya kadang-kadang mendengar kalimat seperti ini: ”Jamaah yang membawa HP harap dimatikan.” Mungkin Anda pernah mendengarkan hal serupa ketika melaksanakan salat Jumat di masjid.  

Uniknya, saya bukan hanya sekali mendapati pengalaman ini, tetapi berkali-kali. Mari kita perhatikan sekali lagi bunyi kalimat tersebut.

Jamaah yang membawa HP harap dimatikan.

Tentu saja ada yang tidak beres dengan kalimat di atas. Pangkal masalahnya ada pada kata dimatikan. Sebagaimana diketahui, imbuhan di-kan membentuk kata kerja (verba) pasif transitif. Gabungan imbuhan itu menyatakan makna kausatif (verba yang menyatakan sebab atau menjadikan).

Jadi, kata dimatikan memiliki arti dibuat menjadi mati. Maka, tidak salah apabila ada guyonan bahwa jamaah salah Jumat yang membawa HP akan lari atau kabur karena takut dimatikan.

Inilah yang membuat kalimat tersebut janggal dan bermasalah. Seharusnya, bunyi kalimat itu adalah: Mohon jamaah menonaktifkan ponselnya saat ceramah khatib dan salat Jumat berlangsung.

Sidoarjo, 24 Januari 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Januari 24, 2014, in Bahasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: