Tragedi Erwina, Stop Pengiriman TKW!


Tjatatan Eko Prasetyo

Kondisi Erwina saat tiba di Indonesia. (Sumber: detiknews.com)

Kondisi Erwina saat tiba di Indonesia. (Sumber: detiknews.com)

Penyiksaan yang dialami Erwina Sulistyaningsih ini benar-benar di luar batas. Wajah cantiknya saat berangkat ke Hongkong nyaris tak berbekas. TKW berusia 17 tahun asal Ngawi, Jatim, ini menjadi korban penganiayaan majikannya, Law Wan Tung, di Beverly Garden Kowloon.

Ia bekerja di Hongkong sejak Mei 2013. Selama itu pula diduga ia mengalami siksaan sehingga saat hendak dipulangkan ke Indonesia, ia dilaporkan nyaris lumpuh. Di Bandara Internasional Hongkong, ia ditolong oleh sesama buruh migran.

Sesampai di tanah air, Erwina sempat dirawat di rumah sakit di Sragen, Jawa Tengah, sebelum dipulangkan ke Ngawi. Tragedi ini mengundang simpati ratusan TKI di Hongkong. Mereka berdemo di depan kantor Konjen RI di Hongkong. Jaringan BMI Hongkong tersebut meminta pertanggungjawaban PJTKI yang memberangkatkan Erwina, yakni PT Graha Ayu Karsa Tangerang.

*****

Erwina (kiri) bersama temannya sebelum menjadi BMI di Hongkong. (Sumber: detiknews.com)

Erwina (kiri) bersama temannya sebelum menjadi BMI di Hongkong. (Sumber: detiknews.com)

Kita tentu tak ingin jatuh korban lagi di kalangan TKW yang bekerja di luar negeri. Namun, seakan-akan ini sulit direm. Faktor ekonomi menjadi alasan mereka terpaksa bekerja menjadi babu di luar negeri.

Celakanya, di antara mereka, banyak yang berangkat dengan skill dan kompetensi bahasa asing (Inggris, Mandarin) seadanya. Bahkan, ada yang berangkat hanya dengan modal nekat alias tak punya kemampuan apa-apa selain pendidikan rendah (lulus SD).

Saya memandang ini bukan hanya masalah serius bagi Kemenakertrans. Kemendikbud juga harus mengambil sikap. Pendidikan yang baik dan terjangkau bagi warga miskin harus benar-benar diberikan. Tidak boleh lagi ada remaja yang tidak sekolah.

Pemerintah harus berani menindak tegas PJTKI yang mokong. Pemerintah juga mesti berani menghentikan pengiriman TKI/TKW ke luar negeri. Apa tidak malu disebut negeri pengekspor jongos?

Surabaya, 12 Januari 2014

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Januari 13, 2014, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: