Daily Mail vs KBS


Tjatatan Eko Prasetyo

Klub Bloger IGI

Akhir tahun lalu nama Surabaya mendadak jadi perbincangan di luar negeri. Ini bukan soal Wali Kota Tri Rismaharini yang gaya kepemimpinan koboinya sempat menyedot perhatian media asing. Kota Pahlawan jadi sorotan lantaran pemberitaan surat kabar dari Inggris Daily Mail yang menyebut bahwa Kebun Binatang Surabaya (KBS) sebagai kebun binatang paling kejam di dunia.

Bukan tanpa alasan jika Daily Mail memberikan penilaian tersebut. Pasalnya, KBS ibaratnya menjadi taman kematian bagi hewan-hewan yang ada di situ. Banyak binatang yang mati karena minimnya perhatian pengurus.

KBS memang dilanda krisis internal lantaran dualisme kepengurusan. Polemik membuat Pemkot Surabaya turun tangan. Dibentuklah ”tim penyelamat”, namun friksi tidak kunjung reda. Malah angka kematian hewan bertambah.

Setelah headline di Daily Mail, saya berkunjung ke KBS. Ini kunjungan kedua saya sejak yang pertama pada tahun 2000. Ya Tuhan, saya nggak tega betul melihatnya. Banyak hewan ceking kurus kering di sana. Sebagai pencinta binatang, saya bertanya-tanya apakah manusia-manusia yang berseteru dalam KBS ini masih punya nurani saat melihat binatang-binatang dengan kondisi begitu.

Contohnya, kandang gajah yang baunya bukan main. Masih tercium dari radius beberapa ratus meter. Masih banyak kandang hewan yang tak terjaga kebersihannya. Saya teringat Zsa-Zsa, kucing kesayangan saya ketika masih kuliah di IKIP Surabaya. Badannya sehat dan gemuk sehingga mampu menarik perhatian para kucing jantan di kampung kami. Di KBS saat ini tidak sulit menemukan hewan yang kurus kerontang.

Daily Mail memang sempat dikecam dengan pemberitaannya yang dinilai tendensius terkait KBS. Yakni menilai bahwa KBS sebagai death zoo. Namun, kini Daily Mail bakal bernapas lega setelah kasus kematian Michael, seekor singa KBS beberapa hari lalu.

Si raja hutan ini mati dengan kondisi tergantung tali. Diduga ia sengaja dibunuh. Tentu ini bukan preseden yang baik buat KBS yang tengah berupaya memulihkan kepercayaan publik Surabaya dan Indonesia.

Baru-baru ini seekor anak panda berumur empat bulan di sebuah kebun binatang di Amerika diperkenalkan kepada masyarakat setempat. Namanya Bao-Bao. Ia lucu dan menggemaskan. Bao-Bao mendapat perlakuan yang amat eksklusif sebagaimana hal yang sama diperoleh hewan lain di situ. Semoga KBS mampu becermin, yaitu mengupayakan angka kelahiran hewan, bukan menambah angka kematian hewan. Mungkinkah?

Sidoarjo, 11 Januari 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Januari 11, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. anggap saja kritik yg membangun untuk Surabaya.
    dengan adanya pemberitaan global maka Surabaya harusnya bisa lebih baik ke depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: