Guntingan Iklan yang Disimpan Pak Hatta


Tjatatan Eko Prasetyo

Klub Bloger IGI

Sumber: adetruna.com

Sumber: adetruna.com

Saya selalu berharap agar kisah Pak Hatta ini bisa dimasukkan ke buku-buku pelajaran sekolah. Cerita ini sangat legendaris dan terkenal. Kalau membacanya kembali, rasa-rasanya saya selalu ingin mbrebes mili.

Sebagai proklamator RI, ia bisa menjadi contoh pejabat yang patut diteladani. Ia menikah dengan Ny Rahmi pada usia 43 tahun. Mas kawinnya hanya sebuah buku berjudul Alam Pikiran Yunani yang ditulisnya ketika masa pembuangan di Banda Neira pada 1930.

Itulah yang menginspirasi saya untuk menulis buku Mahabah sebagai hadiah kepada nyonya saat pernikahan kami.  Kehidupan sehari-hari Pak Hatta juga tak kalah inspiratif. Pada saat Ibu Rahmi meminta dibelikan mesin jahit, Pak Hatta tak bisa memenuhi karena nilai mata uang rupiah baru saja dipotong dari Rp 100 menjadi Rp 1.

Ia menyuruh istrinya untuk menabung lagi. Yang paling nggegirisi tentu saja keinginan sang proklamator RI yang tak pernah terwujud. Yakni memiliki sepatu Bally yang begitu diidam-idamkannya. Impiannya tersebut terungkap ketika ditemukan guntingan iklan sepatu Bally pada akhir hayatnya di tahun 1980.

Mungkin memang tak pas jika membandingkan kehidupan pejabat zaman dulu dengan pejabat era sekarang. Sebab, kesejahteraan pejabat pada masa kini sudah sangat baik. Gaji dan tunjangannya cukup untuk membayar SPP anak di sekolah elite, menggaji empat sampai lima pembantu, bayar cicilan mobil kedua, bayar cicilan rumah ketiga, dan banyak lagi.

Barangkali Mas Habe a.k.a. H. Bahtiar benar bahwa korupsi oleh pejabat yang kian meruyak sekarang tak lepas dari peran masyarakat. Secara tidak langsung mereka ”menuntut” pejabat untuk hidup mewah sehingga berbagai cara dihalalkan guna meraihnya.

Namun, saya kira prinsip hidup sederhana para pejabat jadul seperti Haji Agus Salim, Natsir, ataupun Mohammad Hatta tetap patut dicontoh oleh pejabat-pejabat sekarang. Kita membutuhkan profil-profil pemimpin yang mau bekerja untuk rakyat, bukan hanya mengeluarkan uang untuk bikin baliho dan poster diri menjelang pemilu. Apalagi menggelontorkan banyak rupiah dalam sebuah munas partai demi menduduki kursi istimewa nomor satu.

Sidoarjo, 10 Januari 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Januari 10, 2014, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: