Catatan tentang Film Soekarno


Catatan Eko Prasetyo

Klub Bloger IGI

Adegan dalam film Soekarno. (Sumber: kofindo.blogdetik.com)

Adegan dalam film Soekarno. (Sumber: kofindo.blogdetik.com)

Kamis, 26 Desember 2013, saya berkesempatan nonton film Soekarno di bioskop 21 Surabaya Town Square (Sutos). Saya memperoleh tiket gratis dari Pito Sujatmiko, mantan staf IGI, dan Andi Yasin, pengurus IGI pusat. Hari itu mereka membagikan 800 tiket gratis dan 200 di antaranya diberikan kepada guru-guru anggota IGI.

Saya bukan seorang Soekarnois, tapi saya gemar membaca buku-buku yang berbau Soekarno. Termasuk buku biografinya yang ditulis wartawan AS Cindy Adams. Bagi saya, Bung Karno bukan sekadar negarawan hebat, tapi ia memiliki kharisma tersendiri yang mampu membuat siapa saja yang berada di dekatnya terpesona.

Bagi generasi yang tidak mengalami masa-masa kepemimpinan Bung Karno seperti saya, selalu ada hal-hal yang mengundang ketertarikan untuk mencari tahu sepak terjangnya. Selain membaca berbagai literatur sejarah, saya memuaskan rasa penasaran tentang Bung Karno lewat rekaman-rekaman pidatonya yang kini bisa dilihat dengan mudah di situs YouTube.

Setelah menontonnya, kita mungkin akan sepakat bahwa Bung Karno memang macan podium yang tiada duanya ketika itu. Salah satunya adalah pidatonya dalam rapat raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945.

Maka, setelah mengantongi banyak informasi sejarah tentang proklamator RI itu, saya termasuk yang penasaran dengan film Soekarno yang sempat diisukan akan ditarik lantaran adanya perseteruan antara pihak Multivision (Raam Punjabi) dan salah satu putri Bung Karno. Setelah menontonnya?

Jujur, saya sangat kecewa. Film besutan Hanung Bramantyo ini jauh dari ekspektasi saya untuk melihat figur sejarah yang memiliki dampak permanen bagi bangsa ini. Film ini sebenarnya menceritakan awal perjalanan karir Soekarno saat remaja hingga ia memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Banyak ”kecelakaan” di film ini. Tampak sekali bahwa film Soekarno digarap hanya untuk kejar tayang tanpa riset yang memadai. Yang paling kentara adalah pemilihan pemeran. Misalnya, tokoh Achmad Soebardjo yang digambarkan sebagai pria bertubuh tinggi besar dan posturnya hampir sama dengan pemeran utama Bung Karno. Ini jelas ngawur. Sebab, Mr Soebardjo berpostur pendek (lihat buku Soekarno Arsitek Bangsa karya Prof Bob Berthy Hering).

Yang mengecewakan, film ini terlihat begitu menonjolkan kisah asmara Bung Karno. Porsinya lumayan besar. Misalnya, adegan Bung Karno dengan istri keduanya, Inggit Garnasih (diperankan Maudy Koesnaedi). Saya pun kurang sreg dengan adegan ketika Inggit begitu emosional dan memukul Soekarno saat mengetahui bahwa Bung Karno terlibat cinta dengan Fatmawati yang notabene adalah teman anak angkatnya, Ratna Djoeami alias Omi, semasa pembuangan di Bengkulu.

Di film ini, pesona Bung Karno tidak diperlihatkan sama sekali. Pidato-pidato dalam adegan film terasa kurang gereget meski menggelegar. Entahlah, mungkin memang Soekarno terlalu hebat saat berpidato sehingga sulit ditiru aktor paling lihai sekalipun.

Adegan yang menurut saya penting dieksplorasi tapi tidak ada di film ini adalah masa-masa ketika Bung Karno kos di Jalan Peneleh 7 Nomor 3, Surabaya, atau kediaman HOS Tjokroaminoto untuk menempuh pendidikan HBS. Di sana Bung Karno melihat gelora politik yang dikumandangkan Tjokroaminoto melalui Sjarikat Islam yang kala itu memiliki sekitar dua juta pendukung. Di sinilah Soekarno bertemu tokoh-tokoh militan seperti Muso, Alimin, dan Semaun. Ketiganya kelak menjadi tokoh senior PKI yang sempat melakukan pemberontakan pada akhir 1926.

Fakta sejarah yang juga penting tapi nihil di film ini adalah pengalaman Bung Karno ketika menempuh pendidikan insinyur di Sekolah Tinggi Teknik di Bandung (sekarang ITB). Semangat berpolitik Bung Karno makin menyala. Pada Juli 1924, dr Soetomo yang baru pulang dari studi di Belanda mendirikan perkumpulan studi di Surabaya. Hal yang sama dilakukan Soekarno di Bandung dengan membentuk Perkumpulan Studi Umum pada 25 November 1925. Keduanya mendirikan pula majalah bulanan Indonesia Moeda. Tulisan Bung Karno tentang gagasan Indonesia merdeka di majalah itu mampu membakar semangat rakyat. Ia pun amat cemerlang dengan pidatonya yang begitu heroik.

Adegan lain yang banyak kelirunya adalah ketika Nippon masuk ke Indonesia. Pada saat Nippon menyerah kepada Sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom, ada dialog yang menunjukkan kesan bahwa pihak Jepang terkesan ksatria (dialog ketika Bung Hatta menggebrak meja, lalu ada perwira yang menghunus samurai dan diingatkan kawannya bahwa lebih baik mereka bersikap legawa).

Di film ini, terkesan peran Sjahrir alias Bung Kecil yang menonjol. Prinsipnya yang berseberangan dengan Bung Karno diperlihatkan dengan sikap Sjahrir yang meledak-ledak, pemarah, dan temperamen. Peran Lukman Sardi sebagai Bung Hatta juga lebih menonjol ketimbang Bung Karno.

Banyak sekali kelemahan dan kekurangan di film ini terutama terkait fakta-fakta sejarah. Saya menilai film ini tidak jauh berbeda dengan film fiksi yang diadaptasi dari buku atau novel. Terlalu banyak imajinasi dan minim riset. Terkesan kejar tayang.

Sebagai film, Soekarno termasuk bagus. Tapi, soal pandangan bahwa film ini layak disebut film pendidikan yang memuat sejarah, saya tidak sepakat. Selepas menonton film ini, jujur saya sangat sedih dan ingin menangis karena Putra Sang Fajar digambarkan begitu lemah dan tak lebih dari seorang pria cabul. Maaf.

Sidoarjo, 27 Desember 2013

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 27, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. sekali lagi Raam Punjabi – Multivision gagal mengahdirkan film berkualitas. Sama seperti saat Jokowi yang tayang paksa di bisokop, banyak kekeliruan dalam riset. Lebih mengedepankan kisah cintany ketimbang kharisma besarnya.
    Duh kacau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: