Ketukan Kuntilanak


Tjatatan Eko Prasetyo

Klub Bloger IGI

Saat berkuliah di IKIP Surabaya, saya mengikuti unit kegiatan mahasiswa (UKM) Saloka (Sanggar Loedroek dan Ketoprak). Sebagian aktivis Saloka pada angkatan saya kini bekerja sebagai pegiat seni, dosen, guru, jurnalis, dan produser.

Salah satu pementasan yang pernah kami lakukan adalah lakon Sarip Tambak Oso di daerah Dander, Bojonegoro. Ketika itu UKM Saloka memang mengadakan kegiatan bakti alam sekaligus menyelenggarakan pentas seni untuk menghibur warga sekitar.

Mengapa saya pilih UKM Saloka, bukan UKM lain seperti PSM (paduan suara mahasiswa), UKIM (unit karya ilmiah mahasiswa), atau UKM catur? Sebab, saya mencintai dunia sastra dan di Saloka saya menemukan wahana untuk berlatih menulis skenario sekaligus memperdalam kemampuan berbahasa Jawa kuna dan krama inggil.

Pada masa itu, saya memang sedang asyik dengan dunia baru saya di kampus. Saya sering berkumpul dengan teman-teman di kampus hingga larut malam. Tak jarang pula saya tidur di markas UKM Saloka yang saat itu ada di pojok lantai satu gedung jurusan pendidikan bahasa Jerman dan pendidikan bahasa Jawa.

Kampus FBS IKIP Surabaya di Lidah Wetan, Surabaya, ketika itu belum ramai seperti sekarang (saat ini jadi kawasan elite dengan adanya Universitas Ciputra dan Perumahan CitraLand). Rawan kriminal karena sering terjadi perampasan sepeda motor. Juga kuat aroma mistisnya lantaran daerahnya kebanyakan masih berupa sawah dan amat sepi.

Danau di kampus Lidah Wetan pun terkenal angker. Pada saat saya duduk di semester dua, beberapa kali terjadi kasus orang tenggelam di sana. Semuanya adalah pekerja bangunan yang sedang menggarap proyek Kondominium Graha Family yang kini sudah berdiri megah di seberang gerbang kampus Lidah Wetan. Warga setempat mengatakan sering mendengar tangisan misterius di sana, terutama setelah habis magrib.

Hantu yang amat kondang di Lidah Wetan adalah Kuntilanak. Salah satu daerah yang dikenal angker dan ditunggui Kuntilanak adalah pepohonan rimbun yang saat ini sudah menjadi asrama mahasiswa PPG Unesa, dekat Masjid Lidah Wetan. Apalagi, di situ juga ada daerah kuburan.

Pernah seorang rekan kami lari terbirit-birit setelah mendengar lengkingan suara tawa khas Mbak Kunti pas isya. Sejak itu kelompok kami tidak pernah sendirian apabila berada di kampus saat magrib atau malam hari. Selalu beramai-ramai. Jadi, apabila digoda Kuntilanak, kami bisa lari maraton.

Di kalangan pegiat Saloka, heboh Kuntilanak waktu itu memang cukup mengganggu. Apalagi, kami sering berlatih hingga malam hari, bahkan dini hari jika ada persiapan pementasan. Kakak kelas kami yang juga senior di Saloka pun ada yang pernah digoda Kuntilanak di Lidah Wetan gang IV saat menuju kampus untuk latihan ludruk.

Dan pengalaman mencekam benar-benar terjadi dan kami alami. Waktu itu sudah menjelang Isya. Kondisi Lidah Wetan sudah sepi.  Di UKM Saloka hanya ada tiga orang, termasuk saya. Yang lain belum tiba dari kos-kosan mereka. Kami tengah menonton berita TV di situ.

Tiba-tiba angin terasa berembus kencang sekali. Tak lama kemudian listrik padam. Bulu kuduk kami seketika berdiri. Saya dan dua kawan saya pucat pasi. Kami sedikit panik. Untunglah ada lilin dan korek. Lega rasanya ada cahaya meski hanya berasal dari nyala lilin.

Namun, kami masih merinding. Samar-samar kami mendengar suara sesuatu dari kawasan kuburan kedua yang berada di sebelah selatan kampus FBS. Kami mulai waspada. Seorang di antara kami berteriak, “Tutup pintu.  Cepat kunci!”

Kami meringkuk bertiga. Khawatir ada teror dari Kuntilanak. Jujur, saya takut bukan main saat itu. Pasalnya, kasus senior kami yang ”dijawil” Kuntilanak terjadi beberapa hari sebelumnya. Ini menghantui banget.

Duk-duk-duk. Tiba-tiba pintu UKM Saloka diketuk, entah oleh siapa. Suaranya keras sekali. Sungguh, jantung rasanya mau copot. Dua teman saya mengucapkan istighfar berkali-kali. Mulut kami rasanya terkunci. Tidak bisa teriak. Ketukan selanjutnya malah menjadi-jadi dan makin keras.

Situ kami benar-benar tidak bisa berteriak minta tolong seperti halnya senior kami. Saya berdoa dalam hati sejadi-jadinya sekaligus siap kabur dan teriak. ”Bukakno Cuk! Aku kebelet ngising iki….!” sahut suara dari luar pintu.

Sidoarjo, 12 Desember 2013

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 15, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. ya ya ya…. makasih udab bikin deg degan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: