Buku Prof Luthfi yang Mengecewakan


Tjatatan Eko Prasetyo

Senang bukan kepalang ketika saya menerima buku terbaru Prof Luthfi (sapaan Luthfiyah Nurlaela, guru besar Unesa) yang dititipkan kepada Om Roy. Buku setebal 286 halaman itu berjudul Khasanah Kuliner Tradisional Jawa Timur yang ditulis Prof Luthfi bersama Choirul Anna, dosen tata boga Unesa.

Saya bisa bilang bahwa buku ini merupakan masterpiece-nya Prof Luthfi. Mengapa demikian? Buku ini mampu menyaingi buku Monggo Dipun Badog karya Dukut  Imam Widodo yang terlihat unggul dalam teknik fotografi kulinernya. Dari sisi apa? Tentu saja kelengkapan informasi yang disuguhkan dalam buku Khasanah Kuliner Tradisional Jawa Timur.

Sebagai warga Jawa Timur, jelas saya ikut bangga dengan hadirnya buku tersebut. Bukan hanya Unesa yang pantas gembira, Pemprov Jatim pun selayaknya tepuk dada atas kelahiran buku pintar kuliner ini.

Mengapa? Sebab, buku ini benar-benar ditulis oleh praktisinya secara langsung. Selain seorang akademisi di bidang tata boga, si penulis adalah pengamat gizi dan pangan yang tentu saja kreasi-kreasi yang tertuang dalam buku ini menjadi lengkap.

Di sisi lain, buku Khasanah Kuliner Tradisional Jawa Timur menyuguhkan betapa kayanya budaya Jawa Timur yang dapat dilihat dari sisi kulinernya. Catatan-catatan yang ada di buku ini bisa memperkuat keakuan produk kuliner Jatim. Sebab, apabila tidak diperhatikan secara baik, bukan tidak mungkin ada bangsa lain yang mengklaim, misalnya, klepon, klanting, ataupun kue anu kambing.

Lengkap sudah. Buku ini juga bisa menjadi panduan apabila kita hendak berwisata kuliner ke suatu daerah di Jatim. Namun, itu komentar awal ketika saya menerima buku ini dan membaca sekilas (scanning) halaman demi halaman yang ada di dalamnya.

Namun, buku ini bukan tanpa kekurangan. Saya malah bisa menyebut bahwa pasti buku ini mengecewakan beberapa pihak. Lha wong kuliner Malang, Batu, dan Ponorogo yang jelas-jelas merupakan wilayah di Jatim tidak diulas sama sekali di situ. Ada apa ini?

Sebagai orang yang pernah dibesarkan di Malang, saya jelas amat tersinggung dengan hal ini. Malang adalah kota budaya yang dikenal pula sebagai tempat wisata kuliner. Di sini juga banyak kreasi produk makanan tradisional yang tidak kalah dengan daerah lain di Jatim.

Seingat saya, Bondan Winarno, presenter acara kuliner kondang, beberapa kali mampir ke Malang dan memamerkan jajanan khas tradisional Malang. Rasanya seperti keiris-iris. Keiris-iris. Saya tidak tahu mengapa Prof Luthfi mengabaikan kuliner tradisional Malang.

Padahal, di Malang ada menjes, sego empog, ketan srabut, wedang ronde, rawon Dinoyo, peyek laron, dan banyak lagi. Terbukti, Malang begitu kaya kuliner tradisional. Tapi, entah mengapa hal ini tidak ada di ”kamus kuliner” yang disusun Prof Luthfi. Sekali lagi saya amat kecewa!

Sidoarjo, 14 Desember 2013

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 15, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: