Bukan Kopi Biasa


Tjatatan Eko Prasetyo

Senin malam (9/11) kaki kanan saya yang pernah mengalami kecelakaan motor mendadak sakit. Sakitnya bukan main. Sampai-sampai saya tidak bisa berjalan. Untungnya, di rumah ada kruk yang saya pinjam dari Pak Bambang Prayitno, guru SMAN 7 Surabaya yang juga ahli bekam.

Padahal, Selasa pagi saya dan Mas Yasin harus menemui seorang kolega di Yayasan Al Hikmah. Senin malam itu saya mengabarkan ke Mas Yasin tentang kondisi kaki saya yang cedera.

Sepanjang malam saya tidak bisa tidur. Menahan rasa ngilu dan nyeri yang luar biasa. Untuk menuju toilet, saya harus minta bantuan nyonya. Sakitnya amat menyiksa. Dini hari hingga subuh saya meraung-raung kesakitan.

Selasa pagi saya sempat berkirim pesan pendek ke Mas Yasin. Intinya, saya tidak bisa menemui kolega kami pagi itu. Sekitar pukul 11.00 Mas Yasin datang ke rumah. Saya masih tergolek lemah di kamar. Kondisinya awut-awutan.

Begitu beliau tiba, saya meminta tolong untuk dibopong ke toilet. Selepas itu, saya memilih duduk lesehan di ruang tamu. Pagi yang begitu berat. Apalagi, saya belum nyeruput kopi tubruk. Tersiksa rasanya.

Karena tak bisa berjalan ke dapur, saya meminta tolong Mas Yasin membuatkan segelas kopi tubruk. Begitu aromanya yang kuat tercium, hati saya langsung tenang. Kepala tidak pening lagi.

Setelah duhur, nyonya saya tiba di rumah. Ia minta izin kepada kepala sekolahnya untuk menolong saya. Untunglah, Mas Yasin punya kawan seorang dokter spesialis tulang. Ia meneleponnya. Setelah menerima penjelasan tentang kondisi saya, sang dokter mengindikasi bahwa kaki kanan saya mengalami peradangan sehingga menyebabkan rasa nyeri yang luar biasa.

Mas Yasin sempat ke apotek dan membeli beberapa obat berdasar instruksi Pak Dokter tadi untuk penanganan sementara. Di antaranya, Voltaren Emulgel 10 gram, Myonal 50 mg, dan Novella Natrium Diklofenak 50 mg. Setelah makan, lalu minum obat, beberapa saat kemudian rasa nyerinya reda.

Nah, hasrat untuk ngopi sudah tak terbendung saat itu. Sayangnya, kopi sudah dalam keadaan dingin. Saya seruput sedikit. Saat Mas Yasin pulang menjelang asar, saya beristirahat dan baru bangun sekitar pukul 17.00.

Namun, aroma kopi tubruk tadi masih kuat, apalagi kondisinya tidak tertutup. Gelasnya ada di atas meja kecil di ruang tengah. Harum. Tegukan pertama begitu segar. Begitu nyata. Di tegukan selanjutnya, tubuh rasanya bugar kembali.

Saya pikir, saya telah menemukan kenikmatan sejati minum kopi. Ini bukan kopi biasa! Sayangnya, keceriaan itu tak bertahan lama manakala terlihat cicak kecil menyembul keluar seakan-akan meminta tolong dari bahaya tenggelam. Dunia mendadak gelap.

Sidoarjo, 10 Desember 2013

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 10, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. kopi dingin sudah ga nikmat, mungkin yg membuatnya tak biasa yg membuatnya.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: