Gerakan Literasi Alumni IKIP Surabaya


Tjatatan Eko Prasetyo

Klub Bloger IGI

Apa yang terjadi jika pacover_literasi_depan_REVISIra pegiat literasi dari lintas profesi menulis buku tentang literasi? Hasilnya adalah ampun mama (baca: ciamsor)!

Itulah yang dilakukan 17 alumnus IKIP Surabaya (Unesa) untuk mendorong meningkatnya budaya literasi, baik lingkungan kampus maupun masyarakat pada umumnya. Akhir November lalu, dalam sebuah diskusi di forum milis alumni IKIP Surabaya, dicetuskan gagasan untuk menulis buku tentang literasi.

Biasanya, naskah buku antologi yang ditulis bersama-sama diselesaikan dalam waktu dua atau tiga bulan. Namun, tidak demikian halnya dengan buku alumni IKIP Surabaya yang diberi judul Pena Alumni ini. Buku yang akan dipersembahkan sebagai kado dies natalis ke-49 almamater mereka tersebut disusun hanya dalam waktu satu minggu.

Para penulisnya sendiri adalah aktivis literasi di lingkungan masing-masing. Di antaranya, Pratiwi Retnaningdyah yang kini sedang merampungkan program doktoralnya di Melbourne, Australia. Tulisannya mengupas pentingnya forum akademik yang egaliter. Tiwik –sapaannya- menceritakan pengalamannya bagaimana suasana forum akademik di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia cenderung intimidatif. ”Bikin perut mules,” tulisnya mengutip pengalaman rekannya yang hendak melakukan presentasi ilmiah. Tiwik menjabarkan suasana sebaliknya dalam forum akademik di Australia yang amat egaliter.

Lain lagi dengan Luthfiyah Nurlaela, direktur PPG Unesa dan ketua SM-3T. Ia menekankan literasi, pemodelan, dan konsekuensinya. Luthfiyah memang getol mengampanyekan literasi kepada para mahasiswanya. Untuk itu, ia sadar akan konsekuensinya. Maka, dalam tiap perjalanannya bertugas melakukan monev dalam program SM-3T, ia selalu membuat catatan. Dan semuanya telah dibukukan. ”Setiap ajakan mengandung konsekuensi,” ucapnya.

Masih banyak tulisan menarik lainnya. Para suhu literasi di milis alumni IKIP Surabaya saya ”palak” untuk urun tulisan. Di antaranya, Lies Amin Lestari (guru besar Unesa), Sirikit Syah (kolumnis), Satria Dharma (ketua umum IGI), H. Bahtiar (politikus, pemerhati pendidikan), Rukin Firda (wartawan), Much. Khoiri (dosen creative writing), Hartoko (praktisi kehumasan), Samsul Hadi (pengusaha, penggerak UMKM), Hariyani (guru SMP), dan Anwar Holil (spesialis advokasi dan komunikasi USAID PRIORITAS). Di barisan muda, ada Aziz Hakim (pelatih olahraga), Fafi Inayatillah (mahasiswa S-3 Unesa), Bayu Dwi (penulis muda), dan Rois Abidin (jawara Eagle Awards Metro TV 2009).

Kendatipun buku ini dibatasi oleh kata ”Unesa”, saya menjamin gagasan dan pemikiran yang ada di dalamnya sangat perlu dan relevan dibaca oleh siapa saja yang tertarik pada dunia literasi. Itu ditunjukkan oleh ucapan sastrawan Budi Darma yang memberikan endorsement dalam buku ini.

Dalam keadaan literasi teks yang semakin sempoyongan, muncullah para alumni Unesa untuk melakukan tindakan nyata: menyusun strategi untuk membangkitkan kejayaan literasi teks sebagai penyeimbang dominasi literasi visual. Buku Pena Alumni tidak hanya berupa aspirasi, tapi juga dan inilah yang penting mendorong lahirnya tindakan-tindakan nyata untuk menegakkan harkat, derajat, dan martabat literasi teks.”

Surabaya, 1 Desember 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 1, 2013, in budaya, Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: