Kasus Sitok Srengenge


Tjatatan Eko Prasetyo

Klub Bloger IGI

Sebagai penggemar sastra, saya kaget dengan kasus yang menimpa kolega saya, Mas Sitok Srengenge. Ia dilaporkan ke Polda Metro Jaya lantaran tudingan menghamili RW, 22, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya UI.

Berita itu sudah beredar luas di jejaring sosial dan media massa. Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto membenarkan adanya laporan dari korban pada Jumat siang (29/11). RW saat ini masih didampingi Komnas Perempuan dan dosennya terkait kasus tersebut.

Jujur, saya masih tidak percaya. Namun, setelah membaca surat terbuka yang ditulis putri Mas Sitok yang juga penulis muda, Laire Siwi Mentari, di blog pribadinya saya rasanya langsung lemas.

Siwi memang membantah keras pemberitaan media yang dianggap memelintir dan membesar-besarkan kasus yang menimpa ayahnya. Misalnya, adanya berita bahwa ayahnya memperkosa dan menghindar dari tanggung jawab. Berikut ini saya kutipkan isi surat terbuka Siwi.

Itu tidak benar. Bahwa ayah saya berhubungan dengan RW memang benar, tapi sama sekali tak ada unsur paksaan. Berkali-kali ayah saya berniat untuk bertemu keluarga RW dan mempertanggunjawabkan perbuatannya. Tapi usahanya itu tidak ditanggapi oleh pendamping RW. Seolah-olah akses justru ditutup. Selama beberapa bulan ini justru ayah saya menunggu kabar dari mediator tersebut. Sampai akhirnya kemarin berita beredar. Ayah saya dilaporkan ke polisi dengan tuduhan pemerkosaan dan tidak ada tanggung jawab.”

Saya sangat kecewa kepada ayah saya. Tapi saya tidak akan membiarkan ayah saya menjadi seorang yang jahat. Saya akan dukung dia untuk terus berusaha bertanggung jawab kepada RW dan keluarganya. Dan sebisa mungkin saya akan selalu mendampingi ayah saya. Biar bagaimana pun, saya tetap bagian dari hidup ayah saya dan tak ada siapa pun yang ia miliki kecuali saya dan ibu saya.

Mas Sitok, di mata saya, adalah penyair yang lengkap. Bahkan, boleh dibilang saya sudah menyukai puisi-puisi Sitok Srengenge dan Prof Sapardi Djoko Damono sejak masih menjadi mahasiswa sastra Indonesia Unesa.

Saya mempelajari pula gaya-gaya penulisan puisi dan proses kreatif puisi berbahasa Jawa yang ditulis oleh (alm) Prof Suripan Sadi Hutomo, Trinil, Bonari Nabonenar, ataupun Suharmono. Termasuk puisi-puisi mbeling milik Remy Sylado dan puisi mantra milik Sutardji Chalzoum Bahri. Namun, yang menarik buat saya adalah teknik puisi yang ditulis Sapardi dan Sitok Srengenge.

Berikut ini saya cuplikkan salah satu puisi Mas Sitok yang terkenal.

 

Menulis Cinta
Kauminta aku menulis cinta
Aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya
Kubolak-balik seluruh abjad
Kata-kata yang cacat yang kudapat
Jangan lagi minta aku menulis cinta
Huruf-hurufku, kau tahu,
bahkan tak cukup untuk namamu
Sebab cinta adalah kau, yang tak mampu kusebut
kecuali dengan denyu

Sebagai penyair, Mas Sitok bisa dibilang cool dan tampan. Di usianya yang kini menapak 46 tahun, Mas Sitok malah tampak lebih gagah dibandingkan sejak saya bertemu kali pertama dengannya dahulu.

Maka, saya tidak heran jika bisa saja ada perempuan yang terpikat dengan ketampanannya. Saya tidak hendak membela Mas Sitok apabila ia benar-benar terjerat kasus tuduhan melakukan perbuatan tidak menyenangkan sehingga menyebabkan korbannya hamil. Tidak.

Namun, saya berusaha melihat kasus ini lebih jernih. Pemberitaan bahwa Sitok telah memperkosa seorang mahasiswi hingga sekarang telah hamil tujuh bulan agaknya telah berlebihan. Ucapan dosen filsafat UI Sarasdewi yang mendampingi RW menguatkan hal itu. Kepada penyidik Polda Metro Jaya, Sarasdewi mengatakan masih menyimpan pesan pendek Sitok kepada RW yang mengaku bersalah atas perbuatannya.

Kalau kecewa, jelas saya sangat kecewa dengan sikap Mas Sitok. Sebab, sebagai penganut puisi romantis, ini bisa menjadi preseden yang kurang baik. Nanti bisa-bisa muncul komentar minor bahwa penyair yang menulis puisi romantis itu hanya picisan belaka.

Wah, sebelum itu terjadi, apakah saya harus mengambil keputusan untuk mengikuti mazhab puisi Cak Habe Arifin? Yakni, getol menyuarakan kritik sosial dengan gaya yang meledak-ledak. Saya takut tidak bakat. Tapi coba saya tulis seperti di bawah ini.

 

Bersatulah wahai bakul jamu gendong se-Sidoarjo!

Kibarkan selempangmu…!

Kamu, Yu Tun… bikinlah jamu antisuap kepada para badut Senayan

Dan kamu Yu Nah… buatkan jamu antikorupsi untuk pejabat kedunyan

Ah, tidak ada romantis-romantisnya. Kalau begini, mana bisa saya meredakan badai di rumah saat ”Bu Dirjen” sedang mendelik dan menyingsingkan lengan dasternya.

Sidoarjo, 30 November 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 30, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: