Menulis Buku Lagi


Tjatatan Eko Prasetyo

Klub Bloger IGI

Ampun mbokde! Bulan November ini blog pribadi saya hanya terisi belasan tulisan. Ini jelas bukan kebiasaan saya. Oktober lalu saya masih sempat mengunggah 41 tulisan. Saya gagal memenuhi target untuk membuat satu hari satu catatan harian di blog pada bulan ini.

Ini bukan tanpa sebab. November ini saya dikejar deadline menulis satu buku, mengedit satu buku, dan merampungkan satu majalah pendidikan edisi Januari 2014. Yang terdekat adalah mempersiapkan buku Pena Alumni karya rekan-rekan alumni IKIP Surabaya. Temanya tentang literasi. Untunglah, para penulisnya adalah penulis kawakan sehingga saya tidak perlu minum Bodrex saat menyunting tulisan mereka.

Yang kedua adalah mengonsep dan ndandani sebuah majalah pendidikan milik salah satu sekolah terkenal di Indonesia. Tidak hanya menjadi konsultan, tapi saya juga harus urunan tulisan.

Yang juga harus saya rampungkan adalah menyusun buku Detik-Detik Runtuhnya Gang Dolly. Pengalaman ini sangat heroik dalam hidup saya. Untuk mencari bahannya, saya sempat blusukan ke salah satu lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu. Investigasi. Bahan-bahan literatur lain diberikan oleh partner saya yang ikut menulis buku ini, Pak Kaiyis, direktur Duta Masyarakat.

Referensi utama saya adalah buku Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak, disertasi Dr Sunarto tentang penutupan lokalisasi Bangunsari, buku Agama Pelacur, dan buku-buku dakwah. Setelah menyusun buku ini, saya bisa melihat langsung bagaimana kehidupan di kawasan merah tersebut. Tidak hanya bersisipan dengan para tante mucikari yang geboy abis, tapi juga menyanggong para pelacur di bawah umur serta preman-preman yang ada di sana.

Pengalaman yang juga mengesankan adalah menelusuri sejarah panjang Gang Dolly yang awalnya didirikan oleh Tante Dolly, nonik Belanda yang menyediakan jasa pelacur bagi para serdadu Belanda. Namun, ini hanya salah satu versi di antara beberapa versi sejarah yang ada di situ.

Begitulah. Karena banyaknya deadline yang saling berdekatan, saya terpaksa prei membuat catatan harian. Sempat stres juga. Rambut sampai rontok. Sampai-sampai saya agak fobia jika melihat rambut di lantai.

Saking fobianya, saya mudah kaget. Tadi, saat hendak pipis di toilet setelah rapat dengan alumni IKIP Surabaya, saya shock banget karena melihat beberapa helai rambut di urinoir. Untungnya, saya segera menyadari bahwa rambut itu bukan milik saya. Thanks God…!

Kota Delta, 25 November 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 25, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. hei itu rambutku. hehe…

    Good luck mas pras. pilah pilih prioritas aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: