Tata Kelola Kapasitas Intelektual


(Tulisan ini dimuat harian Duta Masyarakat, 15 November 2013)

Oleh Eko Prasetyo

pemerhati pendidikan (must_prast@yahoo.co.id)

Kemdikbud telah memastikan bahwa ujian nasional (UN) tetap dilaksanakan tahun depan. Kemdikbud juga menargetkan implementasi kurikulum 2013 rampung pada 2015 mendatang. Kendati pro dan kontra seputar dua kebijakan ini masih bergulir, sebagian pihak menilai bahwa parameter keberhasilan belajar siswa tidak cocok jika diukur dengan model ujian nasional.

Alasannya, kurikulum 2013 menitikberatkan pada proses pembelajaran daripada hasil. Dalam kurikulum baru tersebut, yang ditekankan bukan hanya aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik. Namun, dalam forum group discussion di Surabaya pada 5 November lalu, Staf Khusus Mendikbud Bidang Komunikasi Media Sukemi menegaskan bahwa UN seperti model saat ini sebagai penentu kelulusan akan tetap dipakai setidaknya hingga tahun pelajaran 2013/2014. Setelah itu skema dan pola UN siap diubah pada 2015 (Antara, 6/10).

Namun, yang patut dicatat, sistem pembelajaran yang ada sekarang justru berpotensi membunuh intelektual dan kreativitas siswa kendati hal itu coba dijawab dengan kurikulum baru. Sekolah hanya berhasil melahirkan siswa yang lulus ujian, gagal memenuhi keinginan siswa yang sesungguhnya, yakni pembelajaran yang nyata (real learning) dan apa yang mereka harapkan untuk diketahui (apparent learning).

Kapasitas Intelektual

Ketika membicarakan masalah intelegensi, kita tidak mengacu pada kemampuan untuk memperoleh nilai yang bagus dalam tes tertentu atau kemampuan berprestasi bagus di sekolah. Semua ini sebenarnya hanyalah indikator untuk sesuatu yang lebih besar, dalam, dan penting. Intelegensi yang kita maksud adalah suatu gaya hidup, cara berperilaku dalam situasi yang baru, asing, dan membingungkan. Tes intelegensi yang sesungguhnya tidak akan berfokus pada seberapa besar pengetahuan kita mengenai cara bertindak, melainkan cara kita berperilaku ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Orang cerdas, baik tua maupun muda, ketika menghadapi satu persoalan atau situasi baru akan membuka dirinya terhadap situasi dan persoalan itu. Dia mencoba memahami sesuai pikirannya dan mempersepsikan segala sesuatu menurut kesanggupannya terhadap situasi dan persoalan itu. Dia memikirkan persoalan itu, alih-alih memikirkan dirinya sendiri dan apa yang mungkin terjadi pada dirinya. Dia bergumul dengan persoalan dan situasi baru itu dengan berani, imajinatif, pandai, percaya diri, penuh pengharapan, dan tidak merasa malu ketika gagal menaklukkannya. Inilah yang disebut intelegensi.

Penulis AS John Holt pernah menyebut bahwa tak seorang pun dilahirkan bodoh. Coba sesekali amati balita dan anak-anak serta memikirkan secara serius apa yang mereka pelajari dan lakukan. Kita akan melihat mereka –kecuali balita dan anak-anak yang sangat terbelakang- memperlihatkan suatu gaya hidup dan hasrat serta kemampuan untuk belajar yang pada orang-orang dewasa dapat disebut sebagai genius.

Hampir tidak ada satu pun orang dari seribu atau sepuluh ribu orang yang sanggup belajar begitu banyak selama tiga tahun dalam hidupnya atau mengalami perkembangan pemahaman yang pesat tentang dunia di sekitarnya seperti halnya setiap bayi belajar dan tumbuh dalam tiga tahun pertama hidupnya. Namun, apa yang terjadi dengan kapasitas belajar yang luar biasa serta perkembangan intelektual ini seiring bertambahnya usia?

Yang terjadi, kapasitas belajar dan perkembangan intelektual ini dirusak oleh, lebih dari apa pun, proses yang secara keliru kita namai sebagai pendidikan –sebuah proses yang terjadi di sebagian besar rumah dan sekolah. Kita, orang-orang dewasa, merusak banyak kapasitas intelektual dan kreativitas anak-anak dengan banyak hal yang kita lakukan terhadap mereka atau hal-hal yang kita inginkan mereka lakukan.

Kita merusak kapasitas intelektual dan kreativitas anak-anak terutama dengan membuat mereka menjadi takut. Yakni, takut karena tidak melakukan apa yang diinginkan pihak lain, takut gagal, dan takut salah. Dengan demikian, kita membuat mereka takut berspekulasi, takut melakukan percobaan, serta takut mencoba hal-hal sulit dan yang asing. Bahkan, kalaupun bukan kita yang menciptakan rasa takut pada anak-anak, ketika mereka datang kepada kita dengan rasa takut yang sudah jadi dan telah terbentuk, kita menggunakan rasa takut tersebut sebagai pegangan untuk memanipulasi mereka serta membuat mereka melakukan apa yang kita kehendaki.

Alih-alih mencoba mengurangi rasa takut mereka, kita justru memperkuat rasa takut itu, seringkali sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Kita menyukai anak-anak yang sedikit takut pada kita, penurut, sopan kendati kita tentu tidak begitu suka juga bila mereka menjadi sedemikian takut sehinggan mengancam gambaran diri kita sebagai  orang yang baik dan patut disayangi dan karena itu tidak perlu ditakuti.

Pusat Aktivitas Intelektual

Sudah saatnya pola usang pembelajaran di sekolah ditanggalkan, yang menjadikan simbol angka-angka sebagai ukuran hasil belajar siswa. Pendidikan sebagai salah satu kunci kemajuan perabadan suatu bangsa harus mampu melahirkan generasi yang kreatif, percaya diri, tidak takut salah dalam upaya pembelajaran, dan berkarakter kuat.

Sekolah harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Sebab, di sinilah kapasitas intelektual ditempa dan ditata. Alternatif untuk hal tersebut bisa dilakukan dengan menjadikan sekolah dan ruang kelas sebagai tempat yang dapat memuaskan rasa ingin tahu siswa serta mengembangkan kemampuan dan talentanya. Singkatnya, sekolah harus menjadi pusat aktivitas intelektual, bukan penjara talenta dan kreativitas.

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 15, 2013, in Edukasi. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Coba tanya anak-anak sekolah sekarang, 90% saya yakin mereka benci melakukan rutinitasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: