Mayor Sabarudin, Macan Sidoarjo (1)


Semua Ngeri Dengar Namanya

Catatan Eko Prasetyo

Klub Sejarah IGI

Julukannya Macan Sidoarjo. Pada masa perjuangan, ia menjadi komandan polisi tentara keamanan rakyat (PTKR) untuk Karesidenan Surabaya (Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto) dengan pangkat mayor. Ketua Komite Nasional Indonesia (pada masa sekarang selevel DPR) Karesidenan Surabaya Doel Arnowo melukiskan, wajah Sabarudin amat menakutkan.

”Apalagi jika ia sedang marah. Ketika memelototkan mata, ia tampak bengis,” ucap Cak Doel Arnowo yang juga berperan dalam pergerakan pemuda Surabaya sebelum pertempuran 10 November 1945.

Wiwiek Hidajat, wartawan Antara pada masa kemerdekaan, menuturkan bahwa sebelum menjadi anggota PTKR, tingkah laku Sabarudin sopan, bahkan pemalu. Tetapi, setelah menjabat komandan PTKR Karesidenan Surabaya, Sabarudin berubah menjadi sosok yang gahar.

Hampir tidak ada orang yang ia takuti. Kepada Jenderal Soedirman dan Letjen Oerip Soemohardjo, dua pimpinan tertinggi militer saat itu, ia pun mengaku tidak takut. Ia melenggang bebas begitu saja keluar masuk Markas Besar Tentara (MBT) di Jogjakarta. Satu-satunya orang yang disegani Mayor Sabarudin hanya ex Chudancho H Abdul Wahab, atasan Sabarudin di tentara Pembela Tanah Air (Peta) pada masa pendudukan Jepang.

Salah satu kebrutalan Mayor Sabarudin yang terkenal adalah tindakannya ketika menembak mati Suryo, bekas Chudancho Peta, di Alun-Alun Sidoarjo. Pada masa Belanda, Suryo pernah menjadi anggota kepanduan (kini pramuka) atau padvinder (Nederland Indiesche Padvinders Vereniging). Waktu itu Indonesia juga telah mempunyai organisasi kepanduan sendiri. Di antaranya, KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia), Suryawirawan (Parindra), dan HW (Hizbulwathon).

Sebagai orang terpandang, Suryo lebih memilih kepanduan Belanda, bukan Indonesia. Ia pernah ikut jambore di Belanda. Ia sempat bersalaman dengan Ratu Wilhelmina dan foto kenangannya disimpan. Inilah yang membuat Suryo ditangkap para pemuda Surabaya lantaran dituding pro-Belanda. Ia diserahkan ke pimpinan PTKR Surabaya. Namun, ia dilepaskan kembali karena tidak dianggap tidak dasar untuk menangkapnya.

Pagi bebas, sore ia ditangkap kembali oleh para pemuda di Gedung Borsumij (sekarang Jalan Veteran Surabaya). Atas perintah Soehario Padmodiwirio (Hario Ketjik), pendiri PTKR Surabaya yang bermarkas di bekas Gedung Kenpeitai Surabaya, Suryo dibebaskan.

Dua hari berikutnya, Suryo dibekuk oleh anak buah Sabarudin. Sabarudin yang juga bekas Shodancho sebenarnya adalah mantan anak buah Suryo di Peta. Sabarudin lantas membawa Suryo ke Sidoarjo. Ia diekskusi oleh Mayor Sabarudin tanpa proses pemeriksaan secara hukum.

Versi pertama menyebutkan, Sabarudin menembak mati Suryo dengan pistol. Versi lain mengungkapkan, Sabarudin menebas kepala Suryo dengan pedang samurai. Namun, yang tidak diragukan adalah eksekusi itu dilakukan di hadapan masyarakat Sidoarjo. Mayor Sabarudin menuding Suryo sebagai mata-mata Belanda dengan menunjukkan bukti foto-foto Suryo bersama Ratu Wilhelmina.

Namun, perbuatan sewenang-wenang Sabarudin ini tidak mendapat teguran dari para pimpinan PTKR di Surabaya. Tak ada yang berani menegur dan menghukumnya. Hasanuddin Pasopati, komandan PTKR se-Jawa, yang secara teoretis menjadi atasan Sabarudin, tidak bertindak. Komandan TKR Karesidenan Surabaya R.M. Jonosewojo dan Komandan TKR Jawa Timur Drg Moestopo pun tidak bereaksi.

Waktu itu, seperti dituturkan Doel Arnowo, mendengar nama Sabarudin saja, orang merasa ngeri. Lantas, apa motif tindakan brutal Sabarudin terhadap Suryo? Ternyata, motifnya hanya sentimen pribadi.

Sabarudin yang lulusan MULO (setingkat SMP) mengawali karirnya pada zaman Belanda sebagai juru tulis di Kantor Kabupaten Sidoarjo. Di sinilah ia berkenalan dengan Suryo, yang kebetulan menjadi atasannya sebagai komis.

Nasib membawa keduanya bersaing memperebutkan cinta seorang gadis cantik, anak bupati Sidoarjo. Cinta Sabarudin tak berbalas. Sebab, sang gadis lebih memilih Suryo yang lulusan Sekolah Pamong Praja (OSVIA) sebagai pacarnya. Sejak itulah hubungan keduanya menjadi dingin.

Di masa pendudukan Jepang, banyak pemuda Indonesia yang tertarik menjadi perwira Peta. Termasuk Sabarudin dan Suryo. Nasib mempertemukan mereka kembali saat sama-sama ditugaskan di Daidan (Batalyon) III Buduran, Sidoarjo, pimpinan Daidancho Mohamad Mangundiprodjo. Suryo menjadi chudancho (komandan kompi), sedangkan Sabarudin shodancho (komandan peleton). Semuanya bermarkan di bekas bangunan pabrik gula Buduran.

Sidoarjo, 16 November 2013

Bacaan:

  1. Almanak Kepolisian (1970)
  2. R. Mohamad dalam Revolusi 1945 Surabaya (Lima Sekawan, 1993)
  3. Rekam Jejak Aksi Brutal Perwira Pejuang 1945-1950 (Litera, 2011)

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 15, 2013, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: