Becermin pada Dua Umar


Menjelang Pemilu 2014, saya kebanjiran tawaran menjadi copywriter-nya beberapa caleg yang ingin narsis lewat buku. Tidak semua saya terima. Saya mau 25 jeti bersih dengan deadline satu bulan. Jika mereka keberatan, yo monggo cari penulis yang lain.

Mahal? Sik talah. Para politikus itu nggak merasa berat mengeluarkan ratusan jeti buat narsis lewat baliho ukuran sedang dan besar, iklan koran, iklan TV lokal, dan tebar pesona di balik acara sosial. Mosok cuma slawe jeti untuk personal branding di buku dengan garansi lebih lama expired-nya merasa abot. Orang-orang seperti ini mungkin sedang dagelan matematika pasar. Hanya ngitung untung rugi.

Namun, setelah mengedit buku seorang pegiat dakwah di Jatim, saya wis mulai menstop aktivitas sebagai copywriter-nya politisi. Di salah satu babnya terdapat cuplikan kisah dua Umar.

Yang pertama adalah Umar bin Khattab, sahabat Nabi SAW yang menjadi khalifah setelah kepemimpinan Abu Bakar As Shiddiq. Yang kedua Umar bin Abdul Aziz yang masa kepemimpinannya juga sangat masyhur.

Kisah paling terkenal dari Umar bin Khattab tentu saja saat ia menerima tamu. Suatu malam datang seorang warga di kediaman sang khalifah. Umar bertanya, “Kowe ke sini untuk keperluan negara atau pribadi?”

Si tamu menjawab keperluan pribadi. Maka, Umar mematikan pelita yang menerangi ruangannya. Alasannya, lampu ublik itu dibeli dari kas negara sehingga harus digunakan untuk keperluan negara saja, bukan pribadi.

Kisah kedua tak kalah inspiratif. Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pengusaha perlente yang kaya raya. Sifatnya yang low profile, dermawan, dan jujur membuatnya disukai masyarakat.

Ketika masa pemilu, seluruh warga mendukung Umar bin Abdul Aziz untuk menjadi amirul mukminin (pemimpin orang mukmin). Ia pun akhirnya benar-benar terpilih tanpa tanding.

Lantas kalimat apa yang keluar dari mulutnya? Bukan alhamdulillah, melainkan INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUUN.

Bagi dia, menjadi pemimpin itu musibah. Karena sudah diamanahi demikian, ia mewakafkan hartanya ke kas negara. Kehidupannya berubah 180 derajat. Ia memilih hidup sangat sederhana sebagai kepala negara.

Sejarah mencatat, Islam juga mencapai kegemilangan di bawah pimpinan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka tipe pemimpin sejati yang tidak gila jabatan dan harta.

Saat ini saya melihat banyak baliho besar di jalan-jalan Kota Surabaya, Sidoarjo, Malang, Semarang, dan Pandaan. Semua caleg mulai tebar pesona. Mereka mungkin saja sadar sedang menunjukkan ambisi menjadi anggota legislatif.

Pada masa paceklik moral seperti saat ini, saya sukar percaya terhadap siapa pun yang mudah berjanji akan bersikap jujur dan bersih. Dunia politik sukar diterka.

Seseorang yang menyabet dua kali gelar dosen teladan di institusi pendidikan terkemuka saja bisa terseret kasus suap. Karena itu, saya terpaksa mengerem dulu kegiatan menulis buku profil tokoh politik.

Setidaknya saya pribadi menunggu sosok calon pemimpin yang kepribadiannya seperti dua Umar tadi. Jika tak ada, yo wis terpaksa golput maneh. Wallahu ‘alam bishshawab.

Surabaya, 14 November 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 15, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: