Gerakan Guru Besar Menulis


Tjatatan Must Prast

mendengarkan Moonlight Serenade + ngopi = puber kedua

Seorang perempuan cantik berumur 46 tahun duduk berpose bersama tiga bocah berkulit legam dari luar Jawa. Senyumnya mengembang diikuti dua bocah lainnya. Hanya seorang di antara tiga anak kecil itu yang tak sadar kamera.

Itulah foto Prof Luthfiyah Nurlaela dalam sampul buku terbarunya, Berbagi di Ujung Negeri (Unesa University Press, 2013). Sebuah buku yang bercerita banyak tentang pengalaman blusukan Luthfiyah ke daerah terluar, terdepan, dan tertinggal di Indonesia.

Rasa-rasanya saya belum lama mengenal perempuan asal Tuban ini. Namun, sikapnya yang rendah hati dan supel membuat kami (dan mungkin siapa saja yang mengenalnya) seolah sudah akrab bertahun-tahun.

Kini ia diamanahi jabatan sebagai direktur program pendidikan dan profesi guru (PPPG) Unesa. Namun, kiprahnya amat menonjol saat dipercaya menjadi koordinator SM-3T (sarjana mengajar di daerah 3T) Unesa.

Luthfi, demikian ia akrab disapa, sepertinya ditakdirkan penuh rekor. Ia merupakan salah satu guru besar termuda di Unesa. Pengalamannya semasa muda yang aktif di himapala tampaknya juga menempa karakternya yang berani, tegas, dan doyan pecel. Ups, maaf yang terakhir ini tidak masuk hitungan.

Tetapi, yang saya teladani dari Prof Luthfi adalah kepeduliannya terhadap dunia literasi. Ia tidak hanya aktif menulis jurnal-jurnal ilmiah, tapi juga rajin merangkum pengalamannya dalam feature-feature ringan.

Kumpulan catatan pena Luthfi ke pelosok Sumba Timur, Maluku Barat Daya, Aceh Singkil, Mamberamo Raya, dan Talaud akhirnya menjadi buku yang saya pegang sekarang (Berbagi di Ujung Negeri). Buku ini melengkapi beberapa buku SM-3T yang disusunnya terdahulu. Termasuk yang dihimpunnya bersama wartawan senior Jawa Pos Rukin Firda a.k.a. Mr Shah Ruk Khin.

Produktivitas Luthfi bukan main. Setahu saya baru beberapa bulan lalu ia blusukan ke Talaud, Aceh, Maluku Barat Daya, dan Mamberamo Raya. Tahu-tahu sekarang sudah menjadi buku setebal 270 halaman.

Saya baru menerima buku ini Jumat kemarin dari ajudannya, Om Roy. Tadi malam baru saya baca sampai halaman 146 yang berjudul Surat Romlah, guru muda yang mengajar di Romkisar, Maluku Barat Daya. Romlah menulis surat untuk Luhtfi dan mengabarkan bahwa dirinya terpaksa ke Mahaleta guna berobat setelah terkena malaria valcivarum.

Namun, inti surat Romlah bukan itu. Juga bukan tentang kondisi laut yang selalu berombak tinggi dan masih kuatnya unsur magis di tempat tugasnya. Romlah berkisah bahwa kepala SD setempat mengancam akan keluar jika guru-guru SM-3T habis masa kontraknya dan pulang ke Jawa.

Hal ini juga menjadi tema di beberapa tulisan Luthfi lainnya dalam buku ini. Yakni, masalah pendidikan di daerah 3T amat membutuhkan perhatian dari semua pihak.

Buku Berbagi di Ujung Negeri ini, menurut saya, menjadi sumbangsih yang sangat berarti bagi dunia pendidikan Indonesia. Laporan-laporan yang diuraikan dengan detail dan bernas ini menjadi makin asyik karena kepiawaian penulisnya dalam meramu tiap kata, frasa, dan kalimatnya.

Potret ketimpangan yang terjadi di daerah-daerah terdepan, terluar, dan tertinggal ini selayaknya membukakan hati pemerintah, pihak terkait, dan kita semua untuk mendukung pemerataan pendidikan. Sebagai penulis, saya merasa terinspirasi untuk mengikuti jejak Prof Luthfi dengan sumbangsih sesuai kapasitas dan kemampuan saya dalam mendukung program pendidikan di tanah air.

Buku ini selayaknya juga menjadi inspirator bagi pengembangan literasi di dunia akademis di Indonesia. Harapannya, tentu saja bisa lahir sebuah gerakan guru besar menulis sebagai bentuk rasa tanggung jawab dan kemajuan pendidikan di tanah air. Sebuah harapan yang tidak terlalu muluk. Saya berharap, buku ini juga bisa dibaca siapa saja yang masih memiliki kepedulian terhadap sesama dan dunia pendidikan kita.

Malang-Surabaya, 9 November 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 9, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: