Bekerja dengan Akal Sehat, Kunci Sukses Hidup


(Tulisan ini dimuat di surat kabar Pasundan Ekspres, 4 November 2013)

Oleh Eko Prasetyo

Penggiat literasi dan penulis buku

a gift to my chhildrenJudul buku          : A Gift to My Children, Petuah Seorang Ayah tentang Investasi dan Kehidupan

Penulis               : Jim Rogers

Penerbit             : Esensi

Cetakan/Tahun    : I/2013

Tebal                 : viii + 91 halaman

ISBN                  : 978-602-241-626-5

Dalam buku Dictionnaraie Philosophique, penulis asal Prancis Voltaire mengatakan bahwa tidak banyak orang yang mau memakai akal sehatnya. Agaknya ucapan Voltaire tersebut benar-benar terbukti saat ini. Nafsu dan keserakahan lebih dikedepankan ketimbang berpikir dan bekerja dengan akal sehat.

Seperti kita saksikan di berita-berita media massa cetak dan televisi, kasus korupsi dan suap seakan menjadi menu yang hampir tak pernah ketinggalan untuk disajikan kepada masyarakat. Satu per satu pejabat publik yang tertangkap tangan dalam kasus dugaan korupsi dan suap mulai menjadi pesakitan. Orang awam tentu berpikir, di mana akal sehat saat ini?

Upaya pemerintah untuk melakukan remunerasi guna menekan korupsi agaknya belum sepenuhnya berhasil. Faktanya, gaji dan tunjangan yang dinaikkan dan lebih tinggi tidak menjamin seseorang untuk tidak berbuat korupsi. Mengutip pernyataan Menteri BUMN Dahlan Iskan, perang terhadap perilaku buruk seperti itu harus dimulai dari diri sendiri. Yakni, membentuk karakter yang berintegritas dan berpikir dengan akal sehat.

Buku A Gift to My Children karya Jim Rogers ini mengupas banyak hal tentang perlunya membangun karakter kuat dan ini mesti ditanamkan sejak usia dini. Rogers adalah seorang investor dunia yang kenyang asam garam di dunia investasi.

Sejak kecil, ia terbiasa dididik orang tuanya untuk bekerja keras demi meraih keberhasilan. Hidup dari keluarga yang sederhana di pedesaan Demopolis, Alabama, Amerika, pada usia lima tahun Rogers sudah bekerja sebagai pengambil botol bekas minuman di lapangan bisbol. Berkat pesan ayahnya yang menyebutkan bahwa pendidikan itu kunci untuk membuka kesuksesan, Rogers lantas meneruskan pendidikan ke Yale University berkat beasiswa yang diterimanya.

Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Balliol College di University of Oxford. Saat itulah dia mencetak rekor dunia pertamanya sebagai pimpinan awak dayung. Ia lantas mendirikan Quantum Fund, sebuah kemitraan investasi global yang pada 1970-an portofolionya naik 4.200 persen, jauh di atas S&P yang hanya tumbuh 47 persen.

Pada usia 37 tahun ia memutuskan pensiun, tapi tidak lantas tinggal diam. Sembari mengurus portofolionya sendiri, Rogers menjabat profesor keuangan di Fakultas Bisnis Columbia University sekaligus menjadi moderator acara The Dreyfus Reoundtable di WCBS TV dan The Profit Motive di stasiun FNN.

Dia pernah mengelilingi dunia dengan sepeda motor, melintasi lebih dari seribu mil di enam benua. Ini adalah rekor dunia keduanya kala itu. Sebagai seorang investor, ia tak mau melewatkan pengalaman tersebut. Karena itu, dia selalu membuat catatan perjalanannya dalam rekor dunia tersebut yang kemudian dibukukan dalam judul Investment Biker (1994).

Belum puas sampai di situ, Rogers mencetak rekor Guinness ketiganya dalam petualangan pada 1999-2002 ketika melintasi 116 negara (dan sekitar 115 perang saudara) serta menempuh lebih dari 152.000 mil. Kisah heroik dan luar biasa ini didokumentasikannya dalam buku Adventure Capitalist.

Namun, kehidupannya berubah setelah ia dikaruniai dua putri, yakni Happy dan Baby Bee, pada saat usianya sudah menginjak 60 tahun. Pandangannya bahwa memiliki anak itu akan menyusahkan diakuinya keliru. Rogers yang selama ini berkutat dengan bidang bisnis dan investasi menyadari bahwa dunia modern sekarang telah banyak membawa manusia berpikir tidak dengan akal sehat.

Akibatnya, persaingan yang tercipta pun tidak sehat. Segala cara dilakukan demi menggapai tujuan. Untuk itulah, Rogers menulis buku yang berbeda dibandingkan buku-bukunya terdahulu. Ia lebih banyak memberikan nasihat dan pesan moral serta pengalamannya ketika kecil dahulu, yakni saat sang ayah sering mengingatkan pentingnya kerja keras dan bersikap jujur.

Pentingnya belajar dan membangun akal sehat ia lukiskan dalam sikap kritis terhadap media. Rogers mengatakan, saat dirinya masih muda, surat kabar dihormati sebagai sumber yang berimbang, tidak seperti sekarang. Kepada dua putrinya, ia menitipkan pesan: ”Kamu harus membaca surat kabar setiap hari, tapi bersikaplah kritis terhadap semua media.” (hal. 25)

Ia merasa perlu menekankan hal itu karena media massa kadang terjebak melaporkan informasi yang diberikan oleh orang yang mempunyai kepentingan tertentu atau tidak menggali fakta lebih dalam. Rogers mengaku membuat penilaian investasi lebih dari sekali berdasarkan informasi yang berupa perkiraan atau pelaporan yang lemah. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi ketidakakuratan sebuah berita yang disajikan media.

Jika merasa ragu akan berita di surat kabar atau TV, ia bahkan tidak ragu melakukan investigasi sendiri dengan melakukan perjalanan yang diperlukan untuk itu. Baginya, bekerja keras adalah hal mutlak untuk meraih keberhasilan.

Namun, nasihat paling penting yang ia berikan dalam buku ini adalah sikap kemandirian yang dibangun lewat pembentukan karakter berintegritas. Salah satu petuah manis yang dia sampaikan ialah kerja keras, berpikir dengan akal sehat, dan melakukan hal yang benar untuk orang lain. Petuah ini sebenarnya ia kutip dari ayahnya di masa kecil. Sebuah nasihat sederhana yang begitu membekas dan bermanfaat bagi perjalanan hidup Rogers.

Di tengah karut-marut dan krisis multidimensi yang menerpa Indonesia, buku ini bisa menjadi salah satu panduan investasi kehidupan. Tidak hanya bagi kaum muda, tapi juga mereka yang ingin sukses di dalam bidangnya masing-masing.

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 4, 2013, in Resensi. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. bagus nih gan buat motivasi saya 😀
    thansk gan 🙂

    kunjung balik ke web saya yah gan 🙂
    only @ http://www.online.tokomainanshs.com
    thanks before 😀

  2. Ini kan pandangan orang luar salah satunya bahwa punya anak itu merepotkan.
    Sharingnya memang luar biasa. Patut dicoba…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: