Belajar dari Kasus Penganiayaan Pembantu di Purworejo


Catatan Eko Prasetyo

Pedih rasanya ketika melihat berita tentang kondisi Rusnawati. Perempuan 45 tahun asal Sampit, Kaltim, itu akhirnya dinyatakan mengalami kebutaan permanen. Sudah bertahun-tahun ia bekerja sebagai pembantu di rumah Sut, 50, PNS di Kantor Kecamatan Purworejo.

Saat ditemukan dan diselamatkan warga setempat, kondisi Rusnawati mengenaskan. Matanya lebam. Warga pun melapor kepada polisi. Berdasar hasil visum medis, mata korban lebam karena pukulan benda tumpul. Di pahanya juga ditemukan luka memar lantaran pukulan benda tumpul pula.

Rusnawati lantas diboyong sementara ke Panti Wredha Kutoarjo. Dari hasil penyelidikan polisi dan keterangan para saksi, diketahui bahwa Rusnawati kerap dianiaya majikannya.

Dalam wawancara khusus yang dilakukan TV One kepada korban di acara Meja Bundar (30/10), Rusnawati mengaku hanya diberi makan sehari dua kali oleh majikannya. Tidak hanya itu, ia juga tak pernah diberi gaji sejak mengabdi kepada keluarga PNS tersebut.

Trauma benda tumpul di mata membuat korban akhirnya kehilangan penglihatannya. Kepada polisi dan para wartawan, Sut yang telah dinyatakan sebagai tersangka mengaku menyesal dan meminta maaf. Perempuan paro baya itu menyatakan khilaf. Menurut tersangka, dirinya terpaksa melakukan tindakan sadis tersebut karena korban dinilai sering bikin jengkel.

Kerjanya dianggap tidak becus dan bodoh. Lantaran merasa kerap dibuat kesal, tersangka pun menganiaya korban. ”Sungguh, saya melakukannya secara spontan,” tutur tersangka sebagaimana dikutip TV One (30/10). Apa pun dalih tersangka, kini dirinya tak bisa menghindar dari jerat hukum atas tindakannya.

Kasus penganiayaan terhadap pembantu rumah tangga tentu bukan sekali ini terjadi. Hal tersebut bisa dipicu oleh bermacam-macam faktor. Misalnya, hasil pekerjaan pembantu yang dianggap tidak memuaskan, pembantu sering berbuat ceroboh ketika bekerja, dan psikologis majikan. Faktor terakhir, menurut saya, tak kalah penting.

Sebab, tak jarang terpaan masalah keluarga yang dialami majikan bisa berimbas kepada pembantunya sebagai korban. Contohnya, sang majikan terlibat masalah di kantor, kemudian si pembantu kebetulan berbuat lalai. Bisa jadi si pembantu menjadi pelampiasan kekesalan sang majikan.

Tentunya, hubungan dwipartit antara majikan dan pembantu semestinya dibangun dengan baik. Komunikasi, pembelajaran, dan rasa saling menghormati harus diciptakan di keluarga yang memiliki pembantu rumah tangga. Tidak selayaknya pembantu diperlakukan seperti binatang apabila mereka bertindak salah. Sebab, mereka juga manusia. Jikalau majikan menyadari dan memperlakukan pembantu seperti keluarga sendiri, tentu kasus penganiayaan di atas tak perlu terjadi.

Majikan dan pembantu juga harus tahu kewajiban dan hak masing-masing agar terbina komunikasi dan sinergi yang baik. Semoga kasus kekerasan terhadap pembantu ini menjadi yang terakhir.

Graha Asri, 31 Oktober 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 31, 2013, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: