Free Writing Pendobrak Plagiasi


(Tulisan ini dimuat di surat kabar Duta Masyarakat edisi 30 Oktober 2013)

Oleh Eko Prasetyo

Penggiat literasi di Ikatan Guru Indonesia (must_prast@yahoo.co.id)

Sumber: Duta Masyarakat, 30 Oktober 2013

Sumber: Duta Masyarakat, 30 Oktober 2013

Menulis itu mampu menembus batas ruang dan waktu. Betapa tidak, dalam sebuah karya fiksi misalnya, seseorang mampu melukiskan suatu tempat tanpa perlu kakinya berpijak pada tempat tersebut. Tidaklah mengherankan apabila sastrawan Budi Darma pernah mengatakan bahwa dengan menulis, jiwa kita bisa seolah-olah berada di mana-mana. Bebas.

Mampu berpikir secara runtut dan terstruktur hanya merupakan salah satu manfaat kegiatan menulis. Faedah lainnya yang tak kalah penting masih banyak. Di antaranya, berdasar suatu studi di Amerika Serikat, menulis ternyata bermanfaat bagi kesehatan. Tatkala seseorang merasa tidak memiliki tempat untuk mencurahkan isi hati yang berpotensi melahirkan depresi, kegiatan menulis dapat menjadi teman yang tepat untuk berbagi cerita.

Pertanyaannya, dengan segudang dampak positif yang dihasilkannya, lantas mengapa masih banyak orang yang tidak atau belum mau menulis? Kita semua mafhum bahwa budaya menulis di negeri ini belum bisa dikatakan baik. Terbukti masih ada saja kasus plagiasi yang bahkan telah melanda dunia akademisi, dunia yang seharusnya mengedepankan kejujuran berkarya. 

Alasan klasik yang sering dilontarkan saat ditodong untuk menulis adalah kesibukan atau ketiadaan waktu serta sulit menjaring gagasan. Akan tetapi, tidaklah berlebihan jika disebut bahwa muara dari segala alasan tersebut adalah rasa malas. Malas untuk belajar.

Mendorong sejak Dini

Menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang begitu penting untuk dikuasai selain membaca, berbicara, dan mendengar. Bisa dibilang bahwa saat ini tidak ada bidang atau disiplin ilmu yang tidak membutuhkan keterampilan menulis.

Hernowo, CEO penerbit Mizan, pernah berbagi kisah tentang pengalamannya menulis.  Ia mengaku terjun sebagai seorang penulis buku ketika usianya sudah mencapai 44 tahun. Bagi penulis buku best seller Mengikat Makna dan Andai Buku Sepotong Pizza tersebut, usia itu terlambat untuk memulai karir sebagai pengarang.

Awal mula ia menekuni dunia tulis-menulis pun terbilang menarik. Dalam sebuah acara bedah buku, Hernowo pernah menyampaikan bahwa dirinya pernah menyuruh anaknya yang duduk di bangku SMA untuk menulis surat kepada guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Namun, sang anak mengaku tidak bisa menulis surat itu. Hernowo terperanjat.

Ia merasa prihatin. Sejak itulah dia mengikrarkan diri untuk menjadi penulis. Tujuannya mulia, yaitu mendorong dan memotivasi lebih banyak elemen masyarakat, terutama kaum terpelajar, untuk membudayakan membaca dan menulis. Di antara sekian banyak buku yang telah ia tulis, kebanyakan bertema kiat menulis dan tip-tip seputar dunia literasi, baik panduan bagi guru maupun siswa.

Salah satu pesan yang diusungnya ialah aktivitas menulis harus ditanamkan sejak dini. Anak-anak mesti diperkenalkan dengan kegiatan ini dengan berbagai cara edukatif yang menyenangkan. Dengan demikian, mereka tidak merasa bahwa menulis itu suatu tekanan. Hernowo menyebut, menulis harus dimulai dari perasaan gembira. Karena itu, suasana yang menyenangkan harus dihidupkan dalam pembelajarannya. Kalau belajar menulis baru dilakukan pada usia dewasa, semisal guru atau dosen, tentu saja ini amat terlambat. Kendati, better late than never, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Mengabaikan Aturan

Budayawan Radar Pancha Dahana menegaskan, tulis-menulis adalah kebutuhan dasar manusia. Menulis bukan lagi sebuah pekerjaan elite, sulit, mahal, dan artifisial sebagaimana mulanya. Menulis kini adalah sebuah kerja ”alamiah” seperti kita minum, makan, bersenandung, atau mencoret-coret gambar. Ia adalah kebutuhan dasar. Ia adalah ukuran adab dan kebudayaan. Dan manusia terhisap di dalamnya. Karena itulah, manusia harus bisa menulis, bahkan menjadi penulis.

Namun, kenyataan di lapangan tidaklah demikian. Masih banyak yang beranggapan bahwa menulis itu sulit. Seakan-akan formula belajar dengan metode apa pun bisa tak berarti sama sekali. Lantas, muncullah pertanyaan apakah ada metode belajar menulis yang benar-benar mudah diterapkan dan tidak terlalu rumit atau njelimet sebagaimana disajikan dalam banyak buku teks.

Peter Elbow, salah satu pakar literasi asal Amerika, memberikan resep jitu belajar menulis dengan teknik yang menurut dia paling mudah. Ia telah menerapkannya pada para mahasiswa. Dan ia mengklaim berhasil. Seperti apa metodenya?

Elbow menjelaskan tesisnya bahwa selama ini proses menulis ibarat menemui tembok besar lantaran adanya kaidah yang mesti ditaati. Salah satu hadangan terbesar yang bakal menyulitkan orang-orang yang baru belajar menulis adalah tata bahasa.

Untuk itu, ia menyarankan latihan menulis dengan mengabaikan aturan-aturan itu. Dalam proses belajar menulis pada tahapan pemula, rambu tata bahasa dan proses editing adalah hal yang mesti dihindari. Penulis diperbolehkan memulainya dengan sudut pandang apa saja dengan gaya bebas (free writing). Apabila hal ini terus dilatih secara berkelanjutan, dipercaya bahwa menulis bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan, bukan momok. Dengan free writing, diharapkan budaya plagiasi bisa digerus.

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 30, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: