Bahasa Pijin


Oleh Eko Prasetyo*)

(Tulisan ini dimuat di Majalah Widyawara edisi Oktober 2013)

Ada pengalaman menarik yang dituturkan salah seorang guru peserta program SM-3T (sarjana mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal). Ia kebetulan bertugas di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada awal-awal mengajar di sebuah sekolah dasar (SD) setempat, guru mudah tersebut mendapati banyak siswa yang tidak menjawab ketika ditanya tentang nama mereka.

”Siapa nama kamu?” tanya dia. Namun, siswa yang bersangkutan bergeming. Sang guru bertanya kembali, tetapi reaksi muridnya tetap sama: tidak menjawab.

Hal serupa dialaminya ketika melontarkan pertanyaan yang sama kepada siswa lainnya. Guru tersebut heran dan sempat berpikir bahwa keberadaannya mungkin belum bisa diterima oleh mereka.

Untungnya, ada guru setempat yang menjelaskan bahwa para murid itu sebenarnya tidak memahami pertanyaan sang pengajar. ”Mereka tidak tahu maksud pertanyaan Anda,” tutur guru sepuh yang merupakan warga lokal tersebut.

Setelah mendapat penjelasan, guru alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tadi akhirnya baru tahu bahwa struktur kalimat dari pertanyaannya tadi harus diubah. Murid-muridnya baru menjawab setelah guru itu bertanya, ”Siapa kamu punya nama?”

Dahulu, gaya pertanyaan seperti ini lazim dipakai oleh Soekarno, presiden pertama RI. Hal tersebut sebagaimana dituturkan oleh Hoegeng dalam buku biografinya, Polisi: Idaman dan Kenyataan (Sinar Harapan, 1993). Misalnya, Hoegeng mencatat, dalam sebuah percakapan Presiden Soekarno bertanya, ”Siapa kamu punya nama?”

Pertanyaan lain yang nyaris sama terlihat pada contoh berikut ini. ”Di mana kamu punya rumah?” atau ”Kamu punya adik pandai sekali.”

Bahasa Pijin

Sebagaimana dijelaskan oleh Hamid Hasan (1993 : 90), untuk kepentingan komunikasi antara dua suku bangsa, tak jarang terjadi sesuatu yang pemudahan dari salah satu bahasa itu. Yang dimaksud pemudahan atau penyederhanaan tersebut adalah rangkaian salah satu bahasa itu dengan mengabaikan segala aturan tata bahasanya, bunyi-bunyi bahasanya, bahkan lafal atau pengucapannya.

Di sisi lain, perbendaharaan katanya yang sedikit itu dicampur aduk dengan bahasa lainnya. Terutama bahasa yang mengadakan kontak dengan bahasa tersebut.

Sebagai contoh, kita bisa mengambil bahasa Inggris. Karena sudah tersebar sejak lama di daerah yang luas di dunia ini, untuk kepentingan perdagangan umpamanya, banyak sekali terjadi di tempat-tempat tertentu bahasa Inggris dipakai seperti itu.

Tata bahasanya diabaikan. Kata-katanya diucapkan seenaknya. Perbendaharaan katanya campur aduk dengan bahasa lain sehingga orang Inggris yang mula-mula mendengarnya akan bertanya-tanya tentang bahasa tersebut. Bahasa inilah yang disebut bahasa Pijin (Bloomfield dalam Hasan, 1993 : 90).

Bahasa Pijin ini didapati di tiap lapisan masyarakat dan tiap situasi. Pijin Inggris Cina, misalnya, bisa kita temui di Hongkong, Singapura, Washington, Melanesia, dan lain-lain. Pijin Inggris Papua Timur dapat ditemui di Papua Nugini.

Kebudayaan berbeda seperti berbedanya Pijin-Pijin yang lain. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa Pijin bukanlah sesuatu yang bulat. Sebab, seperti dijelaskan semula bahwa Pijin berbeda pada tiap-tiap daerah.

Begitu pula halnya dengan Pijin Prancis, Pijin Spanyol, dan Pijin Arab yang banyak tersebar di dunia ini. Sebab, seperti Inggris, tiga bangsa itu banyak tersebar di pelosok dunia.

Contoh bahasa Pijin Inggris Melanesia seperti dipaparkan L. Bloomfield adalah sebagai berikut.

You not like soup?

He plenty good kai-kai.

What man you give him stick?

Sebenarnya, susunan bahasa Inggris yang baik dan benar adalah:

Don’t you like soup?

It is very good.

To whom you give the stick?

Bloomfield juga memberikan contoh Pijin Inggris Tongo. Contohnya adalah:

A taki: ’gran tanggi : fo : ’you:

(He said, ’thank you very much)

Mi: ’nyam mi: ’bere ’furu

(I have eaten my belly full)

Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia sendiri, kita bisa dengan mudah menemui Pijin Indonesia Cina sebagaimana contoh yang sudah disebutkan di awal.

Ini barang bagus punya.

Ini nomor satu punya.

Rugi la.

Contoh lain sebenarnya masih banyak. Bahasa Pijin Indonesia Cina ini dapat kita temui di pasar-pasar yang terdapat para pedagang keturunan Tionghoa dan tempat lain.

Dari keterangan dan contoh di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa Pijin bukanlah bahasa ibu seseorang atau satu suku bangsa. Bahasa tersebut hanya dipakai untuk alat komunikasi. Andai kata dalam bahasa Pijin itu dipakai sejak mereka kanak-kanak hingga dewasa, bahasa tersebut disebut bahasa Kreol.

Seperti dikatakan oleh Hasan (1993 : 91), sangat mungkin bahasa Kreol ini menjadi dialek dari suatu bahasa. Bahasa Pijin Indonesia Cina sebagaimana contoh tadi bisa jadi sudah dipakai sebagai bahasa sehari-hari di antara kelompok tertentu. Maka, jelaslah itu bahasa Kreol.

*) Penulis buku Tepat Memilih Kata

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 29, 2013, in Bahasa. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. main-main kata, dibalok-balik gatuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: