Buku 36 Kompasianer Merajut Indonesia: Mencatat Kekayaan Budaya lewat Menulis


Tjatatan Must Prast

Dok. pribadi

Dok. pribadi

Bloger Kompasiana menelurkan buku kembali. Setelah meluncurkan buku tentang Jokowi, sekumpulan Kompasianer lain memotret kekayaan Indonesia dari lingkup budaya lewat 36 Kompasianer Merajut Indonesia (Peniti Media, 2013).

Proses penerbitan buku ini terbilang kilat. September mengumpulkan naskah, Oktober sudah terbit. Konseptornya adalah dosen Unesa Much. Khoiri dan penulis lepas Thamrin Sonata. Saya salah satu yang diajak keduanya untuk terlibat dalam proyek menulis ini.

Bukan lantaran Pak Khoiri adalah guru creative writing saya sehingga saya mau ikut berkontribusi dalam buku tersebut, tapi visi tentang dokumentasi budaya Indonesia yang menjadikan saya berminat terlibat. Ini lebih pada sebuah rasa tanggung jawab sebagai masyarakat untuk ikut melestarikan budaya yang ada lewat penyampaian informasi.

Sebagaimana diketahui, Indonesia menyimpan potensi budaya yang sangat kaya. Karena tidak meratanya perhatian dari pemerintah, ada produk budaya yang sampai diklaim oleh negara tetangga seperti reog Ponorogo, batik, hingga lagu daerah Rasa Sayange. Bahkan, lebih dari 30 persen kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dicaplok oleh negeri jiran di perbatasan Kalimantan dalam kamusnya.

Mengapa ini bisa terjadi? Salah satunya tentu saja minimnya perhatian pemerintah. Di sisi lain, peran serta masyarakat untuk menjalankan fungsi kontrolnya terhadap produk budaya sendiri masih lemah. Ditambah kian derasnya pengaruh produk dan budaya asing, generasi muda kita serasa semakin jauh dari budaya lokal itu sendiri.

Karena itu, buku 36 Kompasianer Merajut Indonesia ini menjadi salah satu kontribusi penting untuk bangsa kita. Hal ini terkait tujuannya dalam upaya mendokumentasikan berbagai budaya yang nyaris tak tersentuh perhatian oleh pemerintah ataupun masyarakat.

Saya sendiri mengusung tulisan terkait Kampung Batik Jetis di Sidoarjo. Terus terang saya prihatin karena banyak warga Sidoarjo yang justru tidak mengenal kampung tersebut. Padahal, usianya sudah ratusan tahun! Produk batiknya pun tidak kalah dengan produksi dari Solo ataupun Pekalongan. Saya berharap, lewat tulisan itu masyarakat Jawa Timur pada umumnya bisa memanfaatkan produk lokal ini selain mengangkat pariwisata setempat dan meningkatkan perekonomian di Kampung Batik Jetis.

Masih banyak cerita menarik yang diangkat dalam buku ini. Tentu saja keistimewaan buku ini adalah sajian tulisannya yang ringan, namun tetap mengangkat isu berbobot seputar budaya dan kekayaan Indonesia yang lain. Khas Kompasiana. Tertarik membacanya? Silakan pesan sekarang juga!

Sidoarjo, 23 Oktober 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 23, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: