Menghidupkan Kembali Widyawara


Tjatatan Must Prast

penulis buku Stand Up Komodo (kumpulan status inspiratif di FB)

cover widyawaraMedio 2013 silam, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa (IKIP Surabaya) Dr Syamsul Sodiq MPd mengumpulkan beberapa alumnus, baik dari kependidikan maupun non kependidikan. Di antara mereka, ada Mas Eko Pamuji (GM surat kabar Duta Masyarakat), Mas Hartoko (humas Puspa Agro, eks wartawan Surabaya Post), Om Roy (pemred Mediantara), Cak Basir (redaktur majalah Unesa), dan kawan Bayu (alumnus Unesa yang baru rampung kuliah S-2 di UPI Bandung).

Intinya, Pak Syamsul berniat mengembangkan majalah kebanggaan JBSI Unesa, Widyawara. Sebelumnya, majalah ini seakan hidup segan mati tak mau. Terbitnya tidak tentu. Kadang setahun dua kali, kadang setahun sekali, bahkan pernah tidak terbit sama sekali. Padahal, Widyawara dulu menjadi primadona di IKIP Surabaya.

Majalah ini diterbitkan kali pertama pada 1982. Di antara mantan krunya adalah Pak Sugiono (pensiunan editor Jawa Pos), Pak Guntur Prayitno (mantan kepala editor Jawa Pos), dan Pak Suyatno (sekarang kepala humas Unesa). Sayap literasi JPBSI IKIP Surabaya ya majalah Widyawara ini.

Karena itu, ketika diminta membidani majalah legendaris ini oleh Pak Syamsul, saya langsung mengiyakan. Visinya, Widyawara menjadi majalah bahasa, sastra, dan budaya yang mampu menjangkau pembaca secara luas. Bukan hanya dikonsumsi mahasiswa jurusan bahasa Indonesia Unesa.

Kami pun membentuk tim inti redaksi dan bagian pemasaran dalam proyek revitalisasi Widyawara tersebut. Sesuai kesepakatan dengan para pejabat JBSI Unesa, majalah Widyawara nanti akan diterbitkan dan didistribusikan secara nasional. Tentu saja ini gawe besar dan berat. Kawan Bayu menyusun konsep dan rubrikasi yang kemudian kami bahas bersama-sama.

Saya juga berburu informasi seputar majalah ini di zaman baheula. Terakhir, saat terbitan 2011, ukuran majalah ini terlalu kecil dengan desain yang seadanya. Akhirnya tim menyepakati bahwa ukuran majalah Widyawara seperti majalah Unesa dan Horison. Karena piawai di bidang desain, Om Roy ditunjuk sebagai make up artist, eh make up majalah.

Setelah sempat tertunda beberapa lama, akhirnya majalah Widyawara terbit untuk menyambut bulan bahasa Oktober ini. Pengurusan ISSN-nya dibantu oleh sahabat saya, Cak Yasin, dari Ikatan Guru Indonesia (IGI). Sore ini saya bertemu dengan tim redaksi Widyawara di kampus IKIP Surabaya Jalan Ketintang untuk menyambut kelahiran kembali majalah legendaris ini.

Tentu saja kami dan JBSI Unesa berharap agar majalah ini dapat diterima semua kalangan serta peminat bahasa Indonesia. Literasi juga menjadi misi kami. Selamat datang Widyawara!

Graha Asri, 17 Oktober 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 17, 2013, in Jurnalistik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: