Hurraaaayy…! Tulisan Nyonyaku Dimuat Jawa Pos


Sudah lama saya mendorong nyonya untuk mau menulis. Awalnya dia nggak begitu respek. Ia mengaku lebih suka membaca ketimbang menulis. Tapi, begitu saya komporin: “Masak guru nggak bisa nulis?”, akhirnya dia…….ngamuk!

Ya iyalah, guru mana seeh yang sudi dituding nggak bisa nulis? Tapi, syukurlah lama-lama ia mau belajar menulis artikel. Saya sering membimbingnya ketika menyusun penelitian tindakan kelas (PTK), mulai memetakan gagasan, menyusun judul yang tepat, mengumpulkan data, menentukan objek dan narasumber, hingga proses penulisan.

Saat bikin handout pun saya ikut urun saran dan membantu editing. Kami juga sering terlibat diskusi bersama ketika membaca jurnal, PTK, ataupun artikel pendidikan. Hal ini bertujuan untuk melatih kepekaan terhadap suatu objek yang dibaca.

Dalam sebuah kesempatan, ia mengutarakan keinginan untuk nulis artikel opini. Saya diminta untuk membantunya. Sebagai pembantu, eh misua, tentu saja saya harus siap. Prinsip saya: jangan pernah menolak permintaan nyonya atau tidur di ruang tamu! Opo gak nyahok tah ngene iki…

Saya pun memberikan berbagai contoh artikel opini pendidikan. Sesuai bidangnya. Namun, awal-awal dulu, saya memintanya untuk membaca dan mempelajari tulisan Johanes Sumardianta (SMA Kolese De Brito Jogjakarta) dan Prof Ki Supriyoko (Taman Siswa).

Mengapa keduanya? Sebab, dua-duanya sering nulis opini pendidikan di berbagai media massa nasional. Keduanya juga praktisi pendidikan. Di sisi lain, tulisan mereka bernas, lugas, dan penyampaiannya sederhana sehingga mudah dipahami siapa pun. Pokoknya bermutu.

Semula nyonyaku sambat (mengeluh) tak bisa menulis sebagus Sumardianta atau Supriyoko. Saya tegaskan bahwa dia tak perlu muluk-muluk bisa nulis selevel J. Sumardianta dan Ki Supriyoko. Saya hanya memintanya untuk mempelajarai gaya tulisan mereka. Misalnya, bagaimana corak lead keduanya dalam menguraikan sebuah isu pendidikan sampai gaya selingkungnya.

Pre-writing sudah selesai. Kemudian saya mulai memintanya menulis opini sepanjang 250 kata saja untuk dikirim ke rubrik Gagasan di Jawa Pos. Saya menganggap tahap ini adalah tumpuan untuk menuju jenjang berikutnya: opini nasional sebanyak 800 kata.

Mula-mula dia amat bersemangat. Ketika itu seingat saya ia menulis opini gagasan tentang pendidikan tanggap bencana. Hasilnya luar biasa! Tidak dimuat!

Ia sempat down dan kecewa. Pasalnya, ia mengaku untuk nulis 250 kata saja ngoyonya bukan main. Ini membuktikan bahwa menulis memang tidak mudah dan butuh latihan secara kontinyu.

Lantas ia nulis opini pendek lagi. Kali ini ia mengusung ide tentang BSE. Tulisannya lebih lancar dan tak perlu saya edit. Dahsyat brur! Nggak dimuat lagi…. Areke nggondok dan sempat malas nulis opini gagasan lagi.

Saya menjelaskan bahwa tulisan yang tidak dimuat itu belum tentu tidak bagus. Sebab, pesaingnya pasti banyak dan redaktur opini bakal memilih best of the best. Saya juga katakan kepadanya bahwa penolakan naskah adalah hal yang sangat lumrah dan biasa. Ini proses yang mesti dilalui siapa saja.

Sehari sebelum Idul Adha lalu, saya mengatakan kepadanya untuk mencoba bikin artikel opini di rubrik Gagasan Jawa Pos. Ia setuju. Idenya kali ini adalah bank kurban untuk siswa. Singkatnya, bank kurban ini bisa diadakan sekolah untuk melatih siswa menabung setiap hari selama setahun dan hasilnya nanti bisa dibelikan hewan kurban secara patungan. Tujuan utamanya tentu saja melatih kesabaran dan meneladani Nabi Ibrahim serta Nabi Ismail.

Jreng….jreng….! Tulisannya akhirnya dimuat Jawa Pos. Yang membahagiakan, pada saat bersamaan, tulisan saya juga dimuat Radar Surabaya. Ini hari bersejarah buat kami berdua. Sungguh. Saya pinjam sapu tangannya dong, mata saya wis ora kuat membendung aliran honor yang terbayang, eh maksudnya membendung air mata.

Setelah tiga tahun berlalu, nyonyaku akhirnya lulus ujian ini. Jadi, bagi Anda yang ingin nulis artikel opini di koran, kalau belum dimuat, jangan putus asa. Kan belum tiga tahun!

Selamat darling. Keep writing!

# tsaaah

Graha Asri, 16 Oktober 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 17, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: