Ke Tebuireng (2)


Catatan Must Prast

Kalau ada bonek sejati, salah satunya adalah saya. Dalam kondisi kaki kanan yang baru saja mengalami cedera retak di lutut, saya memaksakan berangkat ke Ponpes Tebuireng, Jombang. Sendiri!

Awalnya, saya berusaha mencari tetangga atau kawan yang mau mengantarkan ke sana. Tapi ora ono sing isok. Yo wis saya tetap berangkat meski sendiri, meski sebenarnya masih pakai kruk. Gak gendeng tah.

Perjalanan dari Sidoarjo ke Jombang bisa ditempuh dalam waktu sekitar dua jam. Saya berangkat pukul lima pagi. Sesampai di Trowulan, Mojokerto, ada pemandangan yang tidak biasa.

Mulai dari Sooko hingga Trowulan, kabut tipis menemani perjalanan saya. Tetapi, saat berada di tengah-tengah pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit itu, kabut kian tebal. Jarak pandang hanya sekitar 100 meter.

Tentu saja para pengendara mobil maupun sepeda motor mesti waspada dan berhati-hati kendati jalanan masih lengang pagi itu. Namun, begitu sampai di perbatasan kota kecil Mojoagung yang termasuk wilayah Kabupaten Jombang, kabut tersebut hilang.

Mojoagung memiliki peran penting dalam sejarah militer Indonesia. Pada masa revolusi kemerdekaan, dibentuk pendidikan pembentukan perwira (Diktupa). Salah satunya adalah Akademi Militer Yogya yang melahirkan tiga angkatan (1948, 1949, dan 1950).

Di Jawa Barat, dibentuk Akademi Militer Tangerang dengan direkturnya yang terkenal, yakni Mayor Daan Mogot (tewas dalam pertempuran Lengkong). Sementara di Jawa Timur ada dua Diktupa darurat, yakni di Surabaya dan Malang. Pada Oktober 1945, didirikan Sekolah Cadet Surabaya. Sebulan berikutnya, di Malang dibentuk Sekolah Tentara Divisi VII Suropati atas inisiatif Divisi VII Suropati yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Cadet Malang.

Nah, Sekolah Cadet Surabaya akhirnya dipindahkan ke Mojoagung akibat terjadi pertempuran dahsyat pada bulan November 1945 di Surabaya. Akhirnya namanya dikenal dengan sebutan Sekolah Kader Perwira Mojoagung.

Salah satu kadet Mojoagung yang terkenal adalah Soewoko. Patungnya kini berdiri tegak di Kota Lamongan dengan nama Monumen Kadet Soewoko untuk mengenang jasanya dalam pertempuran melawan Belanda di Lamongan.

Pada 1950 Akademi Militer Yogya sempat ditutup sementara. Pada 1951, sisa kadet (taruna) AM Yogya yang berjumlah tujuh orang digabungkan dengan pendaftar baru. Mereka kemudian disekolahkan ke Koninklijke Militaire Academie (KMA) Breda di Belanda. Para abiturient (alumnus) KMA Breda seluruhnya berjumlah 35 orang. Salah satu lulusannya yang terkenal adalah Jenderal Rudini (pernah menjadi pejabat militer penting semasa Orba).

AM Yogya sebagai Diktupa bertaraf nasional baru dibuka kembali pada 11 November 1957 dengan nama Akademi Militer Nasional (kini Akmil) di Magelang. Semua Diktupa di Jabar, Yogya, dan Jatim disatukan dalam AMN. Saat diresmikan oleh Presiden Soekarno, disebutkan bahwa hakikat AMN adalah kelanjutan dari AM Yogya pada masa revolusi.

Oke, kini kembali ke Mojoagung, saat singgah di kota ini saya sebenarnya ingin menelusuri jejak-jejak sejarah yang tertinggal. Namun, waktu tak memungkinkan. Saya harus segera ke Ponpes Tebuireng yang juga menyimpan sejarah besar. Dari informasi yang saya dapatkan, pertempuran hebat 10 November 1945 di Surabaya tak bisa dilepaskan dari peran para kiai Nahdlatul Ulama (NU). Banyak kiai dan santri NU yang ikut bertempur di Surabaya. Sayangnya, ini tak tercatat dalam sejarah.

Graha Asri, 6 Oktober 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 5, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: