Merindukan Serie A Era 1990-an


Catatan Eko Prasetyo

Bintang Lazio era 1990-an Giuseppe Signori. (Sumber: foto.ilsole24ore.com)

Bintang Lazio era 1990-an Giuseppe Signori. (Sumber: foto.ilsole24ore.com)

Liga Italia sempat menjadi liga terbaik di Eropa, bahkan dunia. Siapa yang tak mengenal the Dream Team AC Milan dengan trio Belandanya (Marco van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard) pada akhir 1980-an dan awal 1990-an? Bagi generasi yang dibesarkan pada 1990-an, saya pun jatuh cinta pada Liga Italia yang kala itu disiarkan RCTI.

Tiap Minggu, saya selalu pantengin TV untuk menonton laga yang melibatkan tim-tim top macam AC Milan, Juventus, AS Roma, Parma, Fiorentina, Lazio, ataupun Inter Milan yang kala itu disebut tujuh klub besar Italia.

Dewasa itu saya masih ingat betul bomber-bomber haus gol di Liga Italia. Juventus punya Gianluca Vialli, Fabrizio Ravelini, dan pemain muda Alessandro Del Piero. AS Roma punya duet Abel Balbo dan Daniel Fonseca. Milan mengandalkan ketajaman striker Liberia George Weah. Lazio punya tridente maut Giuseppe Signori, Pierluigi Casiraghi, dan Alan Boksic. Fiorentina memiliki ikon tak terlupakan, yakni Gabriel Batistuta. Parma pun tak mau kalah karena memiliki bintang Piala Dunia 1994 seperti Hristo Stoichkov.

Klub-klub medioker juga melahirkan bintang-bintang baru. Pada musim 1995/1996, Atalanta melahirkan top skor klub Filippo Inzaghi yang kemudian dibeli Juventus. Piacenza pernah melejitkan nama Simone Inzaghi, adik kandung Super Pippo (julukan Filippo Inzaghi). Debutan musim 1998, Salernitana, melejitkan nama Marco Di Vaio. Sampdoria diperkuat duet senior junior yang menakutkan, yakni Roberto Mancini (eks pelatih Lazio, Inter, dan Manchester City; kini melatih Galatasaray) dan Vicenzo Montella (sekarang pelatih Fiorentina).

Pertandingan yang melibatkan klub-klub raksasa selalu seru. Atmosfer di dalam stadion menyajikan tontonan yang luar biasa. Derby Roma versus Lazio dan derby Milan dan Inter selalu berlangsung panas, baik di dalam stadion maupun di luar lapangan. Tak jarang, bentrok antartifosi sering membuat repot polisi setempat.

Namun, sejak adanya skandal pengaturan skor (calciopolli dan calcioscormesse), pesona Liga Italia meredup. Juventus sempat dihukum degradasi ke Serie B meski kemudian mampu bangkit dan kini kembali ke treknya sebagai klub terbaik Italia. Di sisi lain, Liga Inggris dan Liga Spanyol mulai unjuk gigi dan menyalip pesona Liga Italia.

Selain itu, klub-klub elite Italia sempat mengalami kesulitan finansial yang membuat mereka sulit mendatangkan bintang-bintang top dunia. Sungguh, saya merindukan Liga Italia seperti pada era 1990-an. Liga yang era itu mampu membuat saya tergila-gila pada sepak bola. Yang hiruk-pikuknya dan kemegahannya selalu dinanti para tifosinya. Liga yang sempat menjadi kiblat kekuatan sepak bola dunia. Semoga kejayaan itu segera kembali.

Graha Asri, 4 Oktober 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 3, 2013, in Olahraga. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Wah, 90-an adalah era terbaik sepanjang masa.
    Saya pertama suka bola ya pas Lazio lagi bagus-bagusnya. Puncaknya di tahun 2000.
    bahkan kala itu tabloid Bola menulis: ‘Serie A jauh lebih penting’ ketimbang kompetisi manapun, bahkan Champions League. Bayangkan, klub-klub Italy lebih mengejar Scudetto ketimbang juara Eropa.
    Ketika itu mereka menanggapi kegagalan duo Italy juve dan Milan yang disingkirkan MU di tahun 1999. Lebih gila lagi sang penulis, Bob (sapa lupa) bahkan sempat berani bertaruh kalau sampai klub Italy tersungkur di tangan MU (melihat history, MU tak pernah bisa melewati klub Serie A) maka dia akan pensiun menulis.
    Diluar duga MU juara 1999, dipenuhi dia mundur jadi kontributor Bola tapi beberapa bulan kemudian dia kembali karena didesak pengemar. Tulisannya emang bagus, tapi tetap saja itu noda buatnya. Dikiranya Serie A akan terus berkibar, sayangnya tidak setelah EPL dan La Liga mencuat.
    Forza Lazio!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: