Jika Ditilik Lebih Jeli, Profesor Sesungguhnya Lebih Diuntungkan oleh Media Cetak jika Mereka Mau Menulis


Catatan Eko Prasetyo

Judulnya mbencekno ya? Panjang ya? Hahaha. Tapi, saya tidak hendak berdebat soal judul, melainkan menyoroti halaman rubrik opini. Khususnya opini di surat kabar-surat kabar nasional.

Jika diperhatikan lebih saksama, dalam sebulan banyak artikel yang ditulis oleh kalangan profesor atau guru besar. Tentu saja hal ini memiliki plus minus.

Rubrik opini hadir untuk menampung gagasan dari para pembaca. Yang diharapkan tentu saja pemikiran kritis serta solusi dari suatu permasalahan yang sedang disorot.

Meskipun tidak ada aturan tertulis, rubrik opini sesungguhnya sangat mengharapkan tulisan yang mengusung tema aktual. Artinya, artikel yang mengangkat topik terkini berpeluang lebih besar untuk dimuat.

Tip lain agar tulisan dapat dimuat di suatu media massa cetak seperti surat kabar adalah kedalaman ulasan dan bahasa ilmiah populer yang mudah dicerna. Penyajian kebahasaan ini penting mengingat beragamnya pembaca suatu media. Tak heran, redaktur lebih suka penulis yang mampu mengusung bahasa bertutur dalam tulisannya dan tidak mbulet. Lebih komunikatif.

Yang juga tidak tertuang dalam aturan main menulis opini adalah latar belakang keilmuan. Bukan rahasia lagi apabila gelar profesor atau guru besar itu memiliki kans besar terhadap pemuatan tulisannya. Mengapa demikian? Sebab, media boleh jadi tidak meragukan keilmuannya saat mengulas suatu topik yang berkenaan dengan bidangnya.

Meskipun media bisa saja mengelak bahwa tulisan setiap penulis memiliki peluang yang sama untuk dimuat, gelar akademis seseorang cukup pengaruh. Seandainya ada sarjana dan profesor yang mengirimkan artikel bertopik sama (kendati sudut pandang ulasannya beda), saya yakin redaktur bakal memilih tulisan sang profesor. Kita tak perlu bahas apa alasannya karena saya yakin Anda pun paham.

Namun, ada pula yang ingin saya soroti terkait hal ini. Yakni, adanya keluhan penulis yang tidak memiliki gelar akademis tinggi. Umumnya, keluhan itu datang karena rasa kecewa lantaran tulisannya tidak dimuat. ”Koran A atau koran B nggak ngasih ruang buat penulis pemula kayak kami ini,” demikian biasanya kegalauan yang muncul dari mereka.

Sebenarnya, mereka tidak perlu khawatir. Gelar akademis prestisius seperti guru besar belum tentu memiliki jaminan bahwa tulisannya selalu dimuat. Penulis pemula pun bakal memperoleh porsi yang sama (dimuat) apabila memang tulisannya bagus, ulasannya baik, idenya orisinal, dan tidak plagiat.

Jika masih khawatir, saya menyarankan kepada penulis pemula untuk mengirimkan artikel opininya ke media lokal terlebih dahulu. Ibaratnya, latihan mengenal medan dulu. Kalau sudah terasah betul, silakan saja mengirimkan artikel opini ke media nasional.

Kalau masih ada keluhan kok banyak tulisannya profesor sih, rasa ”iri” seperti ini tak perlu muncul. Kita perlu melontarkan pertanyaan. Sesungguhnya berapa sih jumlah profesor atau guru besar di Indonesia? Pasti sangat banyak. Dan tidak semuanya itu doyan menulis. Yang lebih ekstrem, saya yakin masih ada profesor yang tidak terampil menulis.

Andai semua profesor di tanah air rajin memublikasikan karyanya di media massa, keluhan tadi wajar. Namun, kondisi di lapangan kan tidak demikian. So, peluang penulis pemula dengan kalangan guru besar sebenarnya fifty-fifty. Tinggal kesungguhan untuk berkomitmen dalam menulis dan meningkatkan kualitas tulisan. Itu saja.

Graha Asri, 1 Oktober 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 30, 2013, in Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: