Khoiri vs Luthfi


Catatan e-Prast

Dua-duanya dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Dua-duanya aktif di kegiatan literasi intrakampus. Sama-sama anggota milis alumni IKIP Surabaya (Keluarga Unesa). Sama-sama rajin membuat catatan harian. Secapek apa pun dan seberat apa pun tugas yang baru dilakukan, percayalah pasti keduanya masih sempat menulis.

Itu persamaan mereka. Perbedaannya? Yang satu calon doktor di Udayana Bali (Khoiri), satu lagi guru besar termuda Unesa (Luthfiyah Nurlaela atau akrab disapa Luthfi). Perbedaan paling besar di antara keduanya adalah..…ya betul: Khoiri laki-laki, sedangkan Luthfi perempuan. Hahaha! Gotcha!!!

Khoiri dan Luthfi adalah cikgu saya di bidang menulis. Khususnya di milis alumni IKIP Surabaya. Khoiri jago di bidang sastra, sedangan Luthfi piawai menulis feature. Tulisan mereka punya kekhasan masing-masing.

Yang lebih penting: mereka berani menembus tembok batas kultur kaku yang selama ini melekat di dunia akademisi. Jikalau para akademisi seperti dosen dan guru besar terbiasa dengan tulisan ngilmiah yang boleh jadi mbulet, memusingkan, dan bikin ngantuk, keduanya tampil dengan gaya tulisan populer yang lebih mudah dipahami.

Nah, pekan-pekan pada akhir September ini dan pertengahan Oktober nanti bisa jadi merupakan momentum penting terkait sepak terjang mereka di dunia literasi. Profesor Luthfiyah sedang ”gila-gilanya” menulis catatan perjalanannya sebagai koordinator program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) Unesa.

Ia ikut membidani teritnya dua buku tentang SM-3T, yakni Ibu Guru Saya Ingin Membaca (Unesa, 2012) dan Jangan Tinggalkan Kami (Unesa, 2013). Luthfi juga baru saja merampungkan beberapa bukunya. Salah satunya adalah Jejak-Jejak Penuh Kesan yang merupakan kumpulan catatan hariannya di blog.

Khoiri juga tak kalah ”gilanya”. Setelah terlibat dalam buku Adam Panjalu (Pustaka NH, 2013), ia masih menyisakan sedikit waktunya untuk sekadar menulis esai yang dikirimkan ke beberapa surat kabar. Di sela mengajar dan mendampingi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, Khoiri didapuk rektor Unesa untuk terlibat dalam program IDB terkait pembangunan beberapa gedung megah di kampus Ketintang dan Lidah Wetan.

Walhasil, ia pun sering wira-wiri tugas luar kota dan luar pulau demi mengemban tugas tersebut. Namun, ada satu komitmennya yang mengagumkan: satu hari harus membuat minimal satu tulisan. Konsistensi ini dibuktikannya dengan rutin mengisi blog pribadinya  di Kompasiana. Dalam beberapa hari ke depan, ia sedang menyusun buku karya Kompasianer yang bertema kekayaan budaya Indonesia. Ini sebuah proyek nasional yang mulia karena misinya adalah memperkenalkan kembali kekayaan budaya yang mungkin belum tercatat. Bukan hanya itu, ia sendiri tengah mempersiapkan buku pribadinya seputar topik creative writing yang memang menjadi bidangnya.

Seolah tak mau kalah, Luthfi malah sudah menyiapkan buku terbarunya tentang pengalamannya blusukan ke daerah 3T di Maluku Barat Daya, Aceh Singkil, dan Mamberamo yang tak lama lagi diluncurkan. Dan buku ini bakal menjadi sumbangsih besar buat dunia pendidikan di Indonesia.

Produktivitas keduanya ini seolah seperti sebuah perlombaan. Khoiri dan Luthfi merupakan potret ideal tenaga pendidik. Sebab, mereka bisa menjadi contoh bagi para koleganya sesama dosen, yang kita tahu untuk menulis saja masih harus dipaksa-paksa oleh pimpinan.

Graha Asri, 28 September 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 28, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: