Firasat Kepergian Brigjen Sutoyo


Catatan Eko Prast

Sumber: biografiteladan.blogspot.com

Sumber: biografiteladan.blogspot.com

Sebelum G 30 S meletus, Brigjen TNI Sutoyo Siswomihardjo menjabat sebagai inspektur kehakiman/oditur jenderal AD. Sebagaimana disebutkan dalam memoar Jenderal (purn) Suhario Padmodiwiryo alias Hario Kecik, sejak 1954 Sutoyo sudah aktif dalam kegiatan antikorupsi di lingkungan TNI AD.

Perwira kelahiran Kebumen pada 28 Agustus 1922 itu sudah sering ditunjuk oleh pimpinan AD untuk membereskan, mengatasi, dan membenahi manajemen TNI AD. Tugas Sutoyo ini terkait dengan pemberantasan korupsi. Rekannya yang sering ditunjuk untuk membantu tugas tersebut adalah S. Parman (juga menjadi korban dalam G 30 S 1965).

Hari-hari sebelum insiden berdarah subuh 1 Oktober 1965, Brigjen Sutoyo yang pernah menjadi atase militer di Inggris pada 1956-1959 termasuk dalam petinggi militer yang aktif dalam Operasi Budhi. Operasi ini sangat terkenal pada masa itu karena termasuk gerakan ”pembersihan” terhadap pejabat tinggi negara yang berasal dari kalangan militer.

Isu Dewan Jenderal berimbas pada karir Sutoyo. Ada suatu bocoran dari ajudan Brigjen Sutoyo, yakni Letda Sutarno. Sebagaimana dikatakan Nani Sutoyo, anak kedua Brigjen Sutoyo, Sutarno menyebutkan bahwa sesungguhnya sang jenderal tak lama lagi hendak diangkat sebagai jaksa agung. Surat pengangkatannya sudah ada dan tinggal menunggu pengesahan formal. Namun, nama Sutoyo yang disebut-sebut masuk dalam lingkaran isu Dewan Jenderal membuat dirinya terpental. Sebuah isu yang sebenarnya absurd (Menpangad Letjen A. Yani pernah menampik adanya Dewan Jenderal, yang ada menurut dia hanya Wanjakti atau Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi).

Pada medio 1964, Hario Kecik pernah berbincang dengan Presiden Soekarno perihal perwira jujur dan bersih yang akan ikut membantu membenahi manajemen di lingkungan TNI AD. Hario menyebutkan dua nama yang amat ia percayai. Yakni, S. Parman dan Sutoyo Siswomihardjo.

Sutoyo mengawali karirnya di militer pada 1945 sebagai anggota Polisi Militer dengan pangkat letnan dua. Pada 1948-1949 ia menjadi kepala staf Corps Polisi Militer (CPM) dengan pangkat kapten. Karirnya berlanjut sebagai kepala staf Markas Besar Polisi Militer di Jakarta pada 1952-1954. Ia hobi melukis. Sutoyo juga pernah menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto.

Pada 1 Oktober 1965 dini hari, Sutoyo diculik oleh pasukan pengawal presiden Tjakrabirawa. Saat itu ia mengenakan pakaian tidur (piyama) bermotif batik. Pada 4 Oktober 1965, jenazahnya ditemukan di sebuah sumur di kawasan Lubang Buaya.

Sehari sebelumnya, 30 September 1965, Brigjen Sutoyo seolah meninggalkan firasat jika dirinya akan pergi selamanya. Hal ini diketahui oleh Letda Sutarno, sang ajudan. Di ruang kerjanya, Sutoyo terlihat gelisah. Ia mondar-mandir.

Letda Sutarno memberanikan diri untuk bertanya. Brigjen Sutoyo mengeluhkan udara yang panas di ruang kerjanya, padahal ruang ajudan terasa sejuk karena dua tempat itu memang ber-AC. Tentu saja hal ini membuat ajudannya kebingungan. Beberapa hari setelah peristiwa 1 Oktober 1965, Letda Sutarno baru memahami bahwa itu adalah firasat kepergian sang jenderal yang dikenal dekat dengan para anak buahnya tersebut.

Graha Asri, 28 September 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 28, 2013, in Sejarah. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. mengharukan

  2. mengharukan sekali

  3. Putra2 Terbaik Bangsa Indonesia..7 Ksatria Pancasila

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: