Satu Penulis, Satu Pohon


Catatan Eko Prasetyo

(bobo sianglah tiap hari dan buktikan apa yang terjadi)

Merinding rasanya saat melihat kondisi hutan belantara di wilayah Borneo dari udara. Banyak yang gundul akibat ulah perambah hutan. Tak sedikit pula area hutan yang sudah beralih fungsi menjadi kebun sawit. Keiris-iris rasanya. Keiris-iris.

Namun, seolah pihak kita tak mau ambil peduli. Justru yang mencak-mencak adalah orang asing. Kita tahu beberapa waktu lalu aktor gaek Amerika Harisson Ford begitu marah ketika melihat hutan di Riau rusak parah. Si Indiana Jones ini kemudian terlibat adu argumen dengan menteri kehutanan RI. Ironis memang.

Rasanya kita ini kok lebih peduli pada ujian nasional ketimbang menanamkan pendidikan cinta lingkungan kepada anak bangsa. Bukankah di tangan mereka kelak masa depan negara ini diletakkan?

Kerusakan hutan di beberapa wilayah di Indonesia harus menjadi perhatian khusus kita. Semua pihak mesti ikut andil dalam upaya penyelamatan dan pelestarian hutan. Tentu dengan  cara masing-masing.

Nah, sebagai penulis buku (versi  cetak, bukan digital), keprihatinan terhadap nasib hutan nusantara juga saya rasakan. Keiris-iris. Halah! Maksudnya, buku itu kan membutuhkan kertas. Sementara bahan baku kertas itu adalah kayu. Lha kayu ini memangnya diambil dari Gurun Gobi? Enggak kan? Yup, kayu diambil dari hutan.

Tak heran jika ada nasihat bahwa penulis buku harus ikut bertanggung jawab atas nasib hutan Indonesia. Ya termasuk penulis artikel opini juga. Kan kertas koran berasal dari kayu pula (kecuali buku digital dan koran digital tentu saja).

Untuk itu, para penulis semestinya ikut mendukung program pelestarian ini. Misalnya, bikin buku dari kertas daur ulang yang ramah lingkungan (di negara asing sudah banyak yang melakukannya). Atau bikin program massal satu penulis, satu pohon. Misalnya, turun lapangan dalam program penanaman pohon mangrove, ikut beraksi menanam pohon yang kayunya menjadi bahan baku kertas, dan sebagainya.

Yang penting, rasa cinta lingkungan ditanamkan betul oleh para penulis. Baik penulis buku cetak maupun digital. Kita tentu tidak mau melihat bencana alam yang disebabkan ketidakseimbangan lingkungan seperti semakin memprihatinkannya hutan kita. Ayo menanam saham, eh pohon!

Graha Asri, 27 September 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 27, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Ya, bobo siang selalu saya lakukan walau hanya sejam.
    Asyik…

    Lha manusia kalong, sering begadang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: