Pojok Bahasa: Ulang Tahun


Catatan Eko Prasetyo

(hikmah terbesar saat kaki bengkak adalah bobo siang)

Bagi saya, diskusi bahasa Indonesia itu selalu menarik. Tema yang rumit bisa disederhanakan dan dibahas agar bermanfaat bagi pengguna bahasa Indonesia lainnya. Kali ini saya tertarik untuk mengulas sikap keukeuh Profesor Kisyani Laksono, guru besar Unesa, tentang penggunaan istilah ulang tahun.

Menurut ibu dua anak itu, istilah tersebut tidak tepat. Alasannya, tahun tidak pernah berulang. Sebagaimana diketahui, jamak yang memakai istilah ulang tahun untuk memperingati kelahiran. Kita tentu tidak asing dengan ucapan, ”Selamat ulang tahun ya.”

Kisyani tidak sepakat dengan istilah itu. Jadi, bagaimana dong, Bu? Dia mengaku lebih suka menggunakan istilah ulang bulan. Sebab, menurut perempuan 53 tahun tersebut, yang dirayakan sebenarnya adalah bulan lahir seseorang. Bukan tahun kelahirannya. Benarkah demikian?

Tahun memang tidak pernah berulang. Pada titik ini, saya sepakat. Namun, istilah ulang bulan juga perlu dicermati. Sebab, sesungguhnya pada perayaan kelahiran yang menandai bertambahnya usia, seseorang tidak hanya mensyukuri bulan lahir, tapi juga tanggal lahir. Jika menengok pernyataan Prof Kisyani tadi, yang bisa berulang kan tanggal dan bulan. Bukankah demikian?

Jadi, menurut saya, ulang bulan pun belum cukup untuk mewadahi ucapan selamat kepada kerabat, rekan, atau tetangga yang sedang merayakan bertambahnya usia. Bagaimana dengan istilah ulang tanggal bulan? Kedawan! Alias terlalu panjang. Lagi pula istilah ulang tanggal bulan juga kurang populer dan belum tentu bisa diterima oleh seluruh pengguna bahasa Indonesia. ”Hai, Mas Prast, selamat ulang tanggal bulan ya!” Aneh kedengarannya, kan?

Kasus kebahasaan ini memang menarik untuk dicermati. Sebab, bahasa sebagai alat komunikasi juga mengalami perkembangan sesuai zaman. Namun, saya menawarkan solusi yang mungkin bisa diterima semua pihak. Yakni, ketika ada yang merayakan kelahirannya, kita cukup mengucapkan dua ucapan di bawah ini.

  1. Selamat ya.
  2. Barakallah.

Ups, maaf, dua ucapan di atas adalah bentuk sikap tidak bertanggung jawab atas masalah ”ulang tahun” dan tidak menyelesaikan topik ini. Solusi yang bisa saya tawarkan adalah kita cukup mengucapkan, ”Selamat atas bertambahnya usia. Semoga Tuhan memberkati.”

Anda punya pendapat lain?

Graha Asri, 27 September 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 27, 2013, in Bahasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: