Kantin dan Toilet FBS Unesa Bukan Main Joroknya


Catatan Arya Dwipangga

Dengan kondisi kaki yang masih masa recovery dan agak terpincang-pincang, saya siang itu mesti menemui Kajur Bahasa Indonesia Unesa Dr Syamsul Sodiq di kampus Lidah Wetan. Agenda lainnya adalah bersua dengan Pak Khoiri, dosen bahasa Inggris Unesa, guna membahas penerbitan buku kami di Kompasiana.

Sembari menunggu dua redaktur majalah Widyawara, Bayu Dwi Nurwicaksono dan Om Roy, saya ngopi di kantin FBS Unesa. Ternyata, perpustakaan yang ada di gedung FBS telah dipindah di ke selatan, di area kantin lantai dua. Nama perpustakaan FBS ini diambil dari legenda IKIP Surabaya, yakni Profesor Suripan Sadi Hutomo (saya pernah diajar almarhum pada semester kedua dulu). Perpustakaannya lumayan megah. Sebagian koleksinya merupakan milik Prof Suripan yang dihibahkan oleh keluarganya.

Kembali ke kantin, saat jam makan siang, kondisinya ramai. Penuh. Kantin FBS ini tak jauh dari masjid baru yang masih dalam tahap finishing. Masjid terkenal di kampus Lidah Wetan tentu saja terletak di belakang gedung PPPG Unesa. Masjid ini sudah ada sejak saya masuk IKIP Surabaya pada 1999.

Kembali lagi ke kantin, tempatnya kumuh. Joroknya bukan main. Pantas saja jarang ada dosen yang mau cangkruk di situ. Piring, mangkuk, dan gelas bekas makan pengunjung tak segera diambil. Tak heran jika banyak lalat. Tidak ada petugas kebersihan di situ. Lantainya yang putih itu penuh jejak kotor sepatu mahasiswa. Lusuh. Kondisi ini bikin nggak betah berlama-lama di sana.

Bukan hanya kantin FBS yang jorok, toiletnya tidak kalah kemproh. Terutama toilet di gedung dekan FBS lantai satu, tepat di bawah Aula Prof Leo Idra Adriana di lantai tiga. Ada dua kamar WC di situ. Yang satu terdapat bekas puntung rokok dan baunya bikin puyeng kepala. Yang satu lagi ada bekas eek yang tidak disiram. Iki kelakuane sopo rek? Saya pun menyiram tinja yang gedenya sepisang kepok itu. Terpaksa. Sebab, saya pun saat itu kebelet beol.

Pengalaman ini membuat saya sedih. Sebab, pada bulan bahasa pertengahan Oktober nanti, gedung dekan FBS ini akan menjadi tuan rumah untuk seminar nasional pendidikan. Sebagai keluarga besar Unesa, saya ikut malu jika kondisi toilet seperti ini diketahui oleh orang luar. Hal ini mengingatkan saya pada kiriman foto seorang kawan dari IKA Unesa tentang kondisi toilet perempuan di kampus Ketintang. Di situ terpampang jelas tumpukan bekas pembalut yang saya tak tahu bagaimana aromanya. Sejorok inikah kampusku tercinta?

Graha Asri, 27 September 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 27, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: