Bisnis Demo di Jakarta


Catatan Eko Prasetyo

Sumber: vivanews.com

Sumber: vivanews.com

Mengejutkan! Demonstrasi massa pun kini bisa diperdagangkan. Tidak murni untuk menyuarakan aspirasi atau memperjuangkan hak. Setidaknya inilah yang diulas dalam cover story yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta.

Sang narasumber mengaku, dirinya melihat peluang bisnis di bidang ini sangat menjanjikan. Terutama di ibu kota. Berapa tarifnya? Tidak main-main, mencapai puluhan juta rupiah. Ia mengatakan tarif yang mahal tersebut adalah hal yang wajar. Sebab, pihaknya tidak hanya mengerahkan massa yang berjumlah puluhan atau ratusan orang, tapi juga menyiapkan perangkat demo dan alat transportasinya.

Dalam bisnis demo ini, ada koordinator wilayahnya. Untuk Jakarta Utara, misalnya, koordinator wilayah berada di Priok. Untuk area Jakbar, Jaksel, Jakpus, dan Jaktim, juga ada koordinator wilayah masing-masing.

Honor untuk individunya berbeda-beda. Orator dibayar Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu. Yang bayarannya paling rendah adalah ”penggembira” atau pendukung demo yang tugas berbaris dan sekadar membawa bendera, yakni Rp 50 ribu.

Para pendukung demo bayaran ini umumnya adalah pemuda pengangguran, preman, bahkan pelajar. Yang heboh, si narasumber mengaku bahwa pihaknya pernah menerima job demo mahasiswa yang tentu saja para pendemonya dibekali jas almamater. Busyet!

Saat dikonfirmasi, Kombes Pol Hilman Thayib dari Humas Polda Metro Jaya tidak menampik adanya demonstrasi yang dibayar untuk kepentingan tertentu. Namun, menurut perwira dengan tiga melati di pundak itu, tindakan ini (demo bayaran) tidak masuk kategori pelanggaran. Kecuali tentu saja apabila demonstrasi berlangsung ricuh dan anarkistis yang membahayakan keselamatan masyarakat umum.

Fenomena bisnis demo ini menarik untuk dicermati. Sebab, saat ini unjuk rasa banyak terjadi di berbagai daerah. Bisa saja dengan alasan kepentingan tertentu, ada demo yang sengaja di-setting dan dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya tidak tahu apa esensi unjuk rasa yang dilakukan. Dan ini sudah jamak terjadi di sekitar kita.

Graha Asri, 27 September 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 27, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Itu kurang ajar! Basmi saja.

  2. bagi yg berpikir semua adalah komoditas, apa seh yg gak jadi bisnis. dan bagi yg berkepentingn, massa berbayar ini pun mnguntungkannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: