Nilai Luhur dalam UN


Catatan Eko Prasetyo

Alhamdulillah, ujian nasional (UN) tetap ada tahun depan. Terima kasih kepada pihak-pihak yang memperjuangkan UN tetap ada.

Sebagaimana diketahui, UN telah mengimplementasikan nilai-nilai luhur. Di antaranya, tepa selira, kesalihan sosial, hormat-menghormati, dan kerja tim (team work).

Pertama, tepa selira. Dalam UN, toleransi amat dibutuhkan. Jika ada murid yg kesulitan menjawab soal, teman lain atau guru atau bahkan pengawas bisa memberikan bantuan jawabannya. Sesama pengawas juga jangan terlalu ketat dalam bertugas.

Tepa selira juga berlaku apabila seseorang mendapat pesan pendek (SMS) yg berisi bocoran jawaban. Doi tidak boleh individual. Berikan bocoran tersebut kepada yg lain yg membutuhkan.

Kedua, kesalihan sosial. Sudah terbukti bahwa UN mampu membentuk pribadi yg salih. Terbukti menjelang perhelatan UN, banyak pelajar dan guru melaksanakan istighotsah massal. Baik yg menjaga shalat lima waktunya maupun yg tidak. Kunjungan ke ulama pun menjadi agenda yg tak boleh terlewat. Mereka cium tangan kiai untuk berharap dapat barokah saat UN meski dengan minimnya persiapan belajar. Di sisi lain, makam para wali pun tak luput dari kunjungan ngalap berkah menjelang UN.

Ketiga, hormat-menghormati. Saat UN dihelat, sesama guru dan pengawas ujian mesti saling membina pengertian. Tidak perlu kemlithi dengan menjadi figur yg idealis. Kalau ada kebijakan dari dinas pendidikan utk ikut “menyuksesakan” UN, ya laksanakan dengan sebaik-baiknya. Hormati kebijakan seperti ini yah!

Keempat, kerja tim yg padu. Yup, pas UN tiba, kerja sama tim harus solid. Kalau kunci jawaban UN ada di pintu toilet, ya coba siasati agar tidak semua siswa langsung pipis massal. Upayakan satu per satu saja bergiliran ke toilet.

Kemudian, jika ada bocoran jawaban dari UN, usahakan kompak. Bina komunikasi yg apik dg pihak bimbel, sekolah, dan stakeholder lainnya. Ingat, keberhasilan UN ini jelas dibutuhkan utk banyak legitimasi. Team work yg solid dan terpadu amat dibutuhkan dalam program “sukseskan UN”.

UN memang harus tetap ada. Sebab, ia adalah sumber penghidupan bagi sebagian kalangan. Jangan bahas kejujuran di sini. Sebab, di negeri ini, kejujuran sudah lama dikebiri sebagaimana UN itu sendiri.

Graha Asri, 24 September 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 25, 2013, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: