Naik Jet Darat


Catatan @mustprasetyo

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan naik jet darat. Jangan buru-buru berpikir bahwa ini adalah mobil Formula 1. Bukan.

Setelah nyambangi kantor Bandung Ekspres di Jalan Soekarno-Hatta yg tak jauh dari markas Tribun Jabar, saya istirahat sebentar. Rencananya, saya akan menuju Kota Subang. Karena sudah malam waktu itu, tak ada angkutan umum dari Kota Kembang ke Subang.

Gia, pemred Bandung Ekspres, menyarankan saya menumpang mobil ekspedisi milik koran Pasundan Ekspres yg bermarkas di Subang. Namun, mobil ini baru datang pukul 22.00 dan pulang ke Subang pukul 01.00. Bandung Ekspres memang memiliki mesin cetak koran sendiri. Ada beberapa surat kabar dari Jawa Pos Group yg cetak di sana. Yakni, Pasundan Ekspres, Cianjur Ekspres, dan Cikarang Ekspres. Mobil ekspedisi itulah jet daratnya.

Begitu mobil itu datang, saya langsung disambut sopirnya, Cecep. Ia asli Karawang dan umurnya di atas saya, 34 tahun. Ia ditemani oleh pegawai bagian packing koran Pasundan Ekspres, Wawan, asli Subang. Usianya masih muda, 26 tahun. Tapi, buntutnya sudah dua.

Saya pernah bermukim lama di Bekasi sehingga paham dengan bahasa Sunda yg mereka pakai. Dari curi dengar, Cecep mengatakan bahwa cetak hari itu telat. Deadline-nya molor. “Bisa telat nih sampai agen,” keluhnya pada Wawan.

Biasanya, Cecep cs mengantar ribuan koran Pasundan Ekspres ke tiga kota. Yaitu Subang, Purwakarta, dan Karawang. Akhirnya, surat kabar tersebut rampung naik cetak pukul satu lewat. Dini hari tentu saja. Kami menggunakan mobil Grandmax bak terbuka.

Cecep minta izin kepada saya untuk nyetir ekspres demi memburu waktu agar koran tidak telat di tangan para agen. Saya duduk di tengah, Cecep di depan setir, sedangkan Wawan di sebelah kiri saya. Ia menggunakan penutup kepala bertulisan Bobotoh Persib. Udara Bandung malam itu memang cukup dingin.

Dan petualangan itu pun dimulai. Jalanan kota dilahap dengan kecepatan di atas cepek kilometer per jam. Saking cepatnya, kami sampai di Lembang hanya beberapa menit. Jalanan amat lengang.

Dari Lembang, kontur jalanan termasuk rawan kecelakaan karena rutenya berkelok-kelok. Mirip jalur dari arah Kota Batu menuju Pare, Kabupaten Kediri di Jawa Timur. Kendati jalurnya mirip Sirkuit Monaco yg rumit, Cecep sama sekali tak berminat menurunkan jarum di speedometer. Di penunjuk kecepatan, terlihat angka 80 km/jam saat tikungan.

Saya yg sebenarnya sudah ngantuk berat dipaksa utk menikmati perjalanan di pagi buta tersebut. Kami melintasi rute Gunung Tangkuban Perahu, kebun teh, dan Ciater. Sepanjang Ciater, kata Wawan, banyak pedagang buah nanas jika siang hari.

Saya juga ditunjukkan tikungan dekat Gunung Tangkuban Perahu yg pernah bikin Cecep ketakutan setengah mati. Ia pernah dicegat Mbak Kunti. Kakinya sampai tak kuat menginjak pedal gas. Sejak itu ia minta ditemani seorang kawan. Ya Wawan itulah yg menjadi partnernya.

Saya pernah sekali seumur hidup naik bus Sumber Kencono dari Surabaya ke Solo. Itu setelah habis deadline. Bus ini amat terkenal dengan para sopir kamikazenyq. Kalau berjalan pas trayek malam, naik bus ini bakal mengajak lidah penumpang berzikir. Yup, saya dipaksa menahan napas dan mengucap kalimat istighfar. Pasalnya, sopir bus ini melajukan kendaraannya secara gila. Tak heran jika ada saja kasus kecelakaan yg menelan korban jiwa dan melibatkan armada Sumber Kencono.

Bus ini jadi legenda karena begitu seringnya mengalami laka lantas akibat aksi ugal-ugalan sopirnya. Lantaran itu pula, sebagian armadanya berganti nama menjadi Sumber Selamat. Ada pula yg namanya kini menjadi Sugeng Rahayu dengan bodi yg lebih kinyis-kinyis meski tarifnya masih tetap kelas ekonomi.

Ternyata, ada yg jauh lebih gila nyetirnya daripada mereka. Ya, si Cecep! Mata saya betah melek tanpa harus ngopi dan terus-menerus merapalkan ayat-ayat Alquran. Saya sudah pasrah jika terjadi apa-apa. Untungnya pula, saya sudah salat. Jadi ati wis rada plong meski di sepanjang jalan diajak sport jantung.

Jarak Bandung-Subang bisa ditempuh 2,5 jam sampai 3 jam saat waktu normal. Dini hari itu, jalanan mulus hingga Subang kami lahap cuma 1 jam 7 menit! Benar-benar ekspres. Begitu memasuki kantor Pasundan Ekspres dan disambut Mas Hendi, koordinator pracetak, kaki saya masih gemetaran. Serasa habis bermanuver di atas Sukhoi SU-27. Kaki saya rasanya kaku karena ngempet dan terlalu tegang.

“Asem loe bro, bikin hasrat be’ol jadi ilang,” ujar saya pada Cecep. Ia nyengir seraya menyarankan saya untuk juga mencoba numpang mobil ambulans yg bawa korban kritis dg jarak tempuh jauh. Ya seperti Lembang-Subang. Konon sopir ambulans juga tak kalah heroiknya dg sopir ekspedisi koran ataupun sopir bus Sumber Kencono. Soal layanan cepat itu pasti. Namun entah cepat ke lokasi atau cepat ke akhirat. Mau coba?

19 September 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 25, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: