5 Menit Silent Reading, Banyak Gagasan


Laporan: Eko Prasetyo

 

BANDUNG – “Ternyata asyik juga silent reading bersama. Jadi banyak gagasan untuk menulis,” ujar Candra, mahasiswa ITB. Kemarin (8/9) dia mengikuti seminar literasi yang diadakan di Gedung Serbaguna Masjid Salman ITB. Selain mahasiswa, acara ini dihadiri dosen, guru, pustakawan, PNS dinas kelautan, hingga pengusaha.

Bagus Ramdhan, ketua panitia, menuturkan bahwa keterampilan menulis perlu dikuasai oleh orang-orang dari berbagai profesi dan latar belakang. Sebab, selain mendukung kemajuan peradaban, aktivitas menulis memiliki banyak manfaat seperti menyehatkan tubuh dan melatih berpikir terstruktur. “Modal utama menulis adalah membaca. Karena itu, kami mengajak seluruh audien melakukan silent reading selama lima menit,” papar konsultan perpustakaan tersebut.

Buku yang dibaca bersama-sama adalah “Mereka Besar karena Membaca” karya Suherman yang baru saja meraih penghargaan sebagai pustakawan berprestasi tingkat Asia Tenggara. Dalam buku tersebut, disebutkan tokoh-tokoh dunia yang gila baca. Di antaranya, Mahatma Gandhi, Steve Jobs, Malcolm X, hingga Gus Dur.

Kegiatan yang diselenggarakan Masyarakat Literasi Indonesia dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Jabar itu diawali dengan safety briefing, yakni tindakan yang perlu dilakukan apabila terjadi bencana gempa. “Hal ini kami berikan untuk memberikan pemahaman tentang langkah antisipatif saat terjadi bencana,” jelas Bagus. Yang menarik, ada pula penyuluhan soal takakura. Para peserta diajak untuk bersikap ramah lingkungan dengan membuang sampah pada zona zero waste yang telah disediakan. Masing-masing dibedakan berdasar sampah yang bisa didaur ulang (kertas, dus, plastik) dan yang tak dapat didaur ulang.

Sementara itu, pelatihan menulisnya pun tak kalah heboh. Narasumber Eko Prasetyo tidak hanya berbagi kiat membuat tulisan yang baik. Dengan sesekali diselingi humor, jurnalis dan editor buku tersebut juga mengajak peserta bermain game menjaring ide tulisan. “Selama ini banyak yang bingung hendak menulis apa dan bagaimana memulainya. Padahal, ide itu selalu ada di sekitar kita. Yang terpenting, jangan meremehkan gagasan sekecil apa pun,” paparnya.

Siti Rahmih, guru dari SD negeri di Bandung Barat, menyampaikan, selama ini dirinya mengaku kesulitan ketika hendak menuangkan ide ke dalam tulisan. “Takut salah,” ucap perempuan berjilbab itu.

Menurut Eko, kualitas suatu tulisan salah satunya ditentukan oleh seberapa kaya bacaan dan seberapa sering orang tersebut berlatih menulis. “Menulis bukanlah bakat, melainkan keterampilan. Ia bisa dilatih dan dilakukan oleh siapa saja tanpa melihat profesi dan latar belakang pendidikannya,” urainya.

Karena itu, selain memberi contoh tulisan, Eko juga mengajak para peserta membuat tulisan bebas dengan mengabaikan dulu aturan bahasa. Hasilnya kemudian didiskusikan bersama. “Acaranya seru. Banyak hal baru yang saya dapatkan dan jadi termotivasi untuk bikin tulisan yang baik,” tutur Didi, 35, pegawai dinas kelautan asal Bandung.

Bagus menambahkan, acara ini akan ditindaklanjuti dengan mendirikan forum diskusi literasi. Para peserta dapat saling berbagi cerita dan pengalaman lewat tulisan. “Forum ini kami harapkan bisa menjadi sarana latihan menulis. Ke depan bukan tidak mungkin kami akan menulis buku bareng,” pungkasnya. (rdh/mn/pr)

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 25, 2013, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: