Betapa Joroknya Penjual Es Ini


Catatan Must Prast

bubur ayam + teh nasgithel = untu bogang

Saya pernah membaca salah satu tulisan Pak Nanang dari Pertamina Foundation di milis IGI tentang jajanan yang dijual di sekolah. Seingat saya, ia menyarankan para orang tua untuk membawakan bekal makanan saja dari rumah untuk anak-anaknya. Kini saya sadar mengapa demikian.

Hanthiiik, penjual es beras kencur kesayangan saya, eh maksudnya langganan saya telah membuat saya trauma. Akhir pekan lalu, tepatnya pas malam Minggu,  saya berniat membeli es beras kencur di dekat perumahan tempat saya tinggal.

Sebelumnya saya selalu membeli beras kencur dalam kemasan botol 1 liter di sana. Namun, malam itu saya ingin minum di tempat. Segelas es beras kencur pun saya tuntaskan dengan tertib. Saat mau membayar, saya melihat gelas bekas saya minum tadi dicemplungkan ke ember. Dibilas sekali, langsung dimasukkan kembali ke tempat tatakan gelas. Mripat iki meh petheng dedhet, kudu semaput. Perut pun mual, tak sanggup menatap kenyataan itu.

Oya, saya juga telah membuktikan tesis Pak Nanang. Di sekolah tempat istri saya mengajar misalnya, penjual jajanan dilarang buka lapak. Para siswa lebih disarankan bawa bekal makanan dari rumah atau ditawari katering yang ditunjuk oleh pihak sekolah dan komite sekolah. Di beberapa SD negeri di Sidoarjo yang pernah saya kunjungi, para pedagang minuman memang jorok bukan main. Hampir sama dengan bakul es beras kencur tadi. Gelas bekas minum siswa hanya dibasuh sekali, tanpa dilap, langsung diletakkan kembali di tempatnya semula.

Belum lagi es setrup (semacam es sirup buatan) yang mungkin bahannya juga bisa membahayakan kesehatan si murid. Yang tak kalah mengerikan adalah penjual gorengan yang kadang gorengannya dipencloki lalat. Kasihan betul anak-anak SD tersebut. Penyakit siap menyongsong mereka. Kesehatan dipertaruhkan di jam istirahat sekolah.

Mungkin benar pendapat seseorang yang menyebut bahwa penyakit aneh-aneh masa kini bisa jadi disebabkan makanan yang tidak sehat. Karena itu, bersyukurlah mereka yang memiliki istri yang pandai memasak.

Malang, 5 September 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 5, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. jadi intinya kalau cari istri itu yg pintar masak hehe #peace

    salam,
    Dee
    -alumni Unesa-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: