Catatan Literasi (6): Kredit Buku


Catatan Must Prast

Saat duduk di kelas 1 SMPN 13 Bekasi (sekarang SMPN 18), saya sangat ngiler dengan Buku Pintar Seri Senior yang disusun Iwan Gayo. Apalagi, ada beberapa teman sekelas saya yang memilikinya. Pernah saya dipinjami untuk membacanya pas jam istirahat dan langsung jatuh cinta pada buku itu. Love at the first sight.

Buku tersebut merangkum banyak informasi seputar negara-negara dunia, atlet berprestasi, kejuaraan olahraga dunia, sejarah, politik, hingga cara perawatan kendaraan bermotor. Mirip buku Rangkuman Pengetahuan Umum dan Lingkungan (RPUL) yang legendaris serta masih dicetak sampai sekarang.

Saya memang sudah punya buku RPUL dan RPAL yang dibelikan ibuk saat saya masih SD kelas 5. Namun, itu belum cukup buat saya. Saya pun merengek untuk dibelikan. Ibuk cuma bilang, “Nabung aja dulu dari uang jajanmu.”

Uang jajan saya waktu itu tidak pasti. Kadang Rp 300. Kalau lagi hoki dapat tambahan dari ebes, ya saya bisa mengantongi Rp 500. Nominalnya stabil di dua angka itu meski suku bunga bank fluktuatif (halah, ngemeng epek).

Saya pikir, kalau saya mesti nyelengi uang jajan Rp 100 tiap hari, saya baru bisa beli buku Iwan Gayo lima bulan kemudian. Harganya saat itu sekitar Rp 15 ribuan untuk yang seri senior (ada pula Buku Pintar Seri Junior yang harganya lebih murah dan penulisnya sama). Mahal karena memang tebal (lebih dari 300 halaman). Terakhir saya temui Buku Pintar Kompas 2012 yang isinya hampir mirip buku Iwan Gayo tadi seharga di atas Rp 65 ribu.

Saya tak mau menunggu selama itu. Tak sabar rasanya untuk segera memiliki dan membacanya. Rasanya ikhlas hati ini nggak main mobil Tamiya, adu gundu (kelereng), main layangan, atau ngembat singkong tak bertuan jika bisa baca buku Iwan Gayo dengan status milik sendiri, bukan pinjam.

Saya lantas minta ebes, tapi beliau malah mengarahkan saya untuk menyampaikan maksud tersebut ke ibuk. Saya sampai memohon-mohon ke ibuk agar mengabulkan permintaan itu. Mirip kalimat alay:
aQ mOhOnt
sekali lagi
aQ mOhOnT…. (T_T)

Akhirnya beliau luluh juga. Namun, ibuk wanti-wanti agar buku tersebut dibaca, tidak hanya jadi pajangan dan lantas berdebu. Saya menyanggupi.

Eit, ternyata ada syarat lain. Ibuk mau membelikannya, tapi uang jajan saya dipotong. Istilahnya kredit buku. Maksudnya, ibuk meminjami dan menyediakan dana cash untuk beli buku tersebut dan saya mencicilnya dengan potongan uang saku tadi.

Dengan demikian, saya akhirnya bisa beli buku itu tanpa harus menunggu celengan selama lima bulan. Suwun Buk…!

Surabaya, 21 Agustus 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 3, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: