Catatan Literasi (14): Munas FLP


Catatan Must Prast

kerupuk bawang + kopi = tanggal tua

Akhir Agustus ini kawan-kawan dari Forum Lingkar Pena (FLP) punya hajatan besar. Komunitas menulis ini akan mengadakan musyawarah nasional (munas) di Bali. Salah satu agendanya adalah pemilihan ketua umum baru.

Bagi saya, beberapa mantan ketua umum FLP tidak asing di telinga. Sebab, saya pernah membaca karyanya seperti Helvy Tiana Rosa dan Intan Savitri yang juga member milis Ikatan Guru Indonesia (IGI).

Namun, yang bikin bangga, sohib saya Sinta Yudhisia masuk sebagai salah seorang kandidat. Ibu rumah tangga yang aktif menjadi motivator menulis sosok yang bukan main. Di usia yang masih terbilang muda, kepala tiga, ia sudah menulis lebih dari 50 buku. Baik fiksi maupun nonfiksi.

Saya bukan anggota FLP, namun rutin mengikuti setiap perkembangannya dari jejaring sosial dan media. Beberapa penulis dan aktivis FLP saya kenal baik. Saya kira banyak inspirasi dari mereka. Misalnya, Afifa Afra (Jawa Tengah) yang memulai karir menulisnya dari rutin mengirim cerpen di majalah-majalah hingga kini punya penerbitan sendiri (Afra Publishing).

Yang juga heroik adalah Ria Fariana. Ia menulis banyak buku remaja dan kini mendapat beasiswa menulis dari Mizan. Ria yang juga kakak kelas saya di jurusan bahasa Inggris Unesa ini merintis karirnya sebagai staf di perusahaan ekspor impor. Panggilan jiwanya sebagai pendidik membawa dirinya mengajar di SMP Al Amal Surabaya, sebuah sekolah untuk anak yatim piatu. Sudah tentu gajinya di sini bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan pendapatan sebelumnya. Namun, ia sangat menikmati profesinya sebagai guru bergaji minim (nominalnya bikin saya mbrebes mili).

Tetapi, Ria justru menemukan dunianya di sana. Banyak hal yang memberinya gagasan cemerlang untuk ditulis. Kebanyakan ide menulis diperoleh dari interaksi bersama murid-muridnya. Yang saya tahu, Ria juga mendorong anak didiknya untuk rakus membaca dan membimbing mereka menulis. Kini ia sedang merampungkan novelnya tentang kisah yatim piatu yang mengejar cita-citanya dan bakal diterbitkan Mizan. Based on true story.

Lain lagi seorang kawan saya di FLP Hongkong. Ia bekerja sebagai buruh migran sebagaimana pengurus lain di FLP Hongkong. Ia bilang, menulis membuat dirinya kuat dan tegar menghadapi masalah hidup. Pagi kerja jadi babysitter, sore memulai rutinitas menulis. Yang terbaru, sebagian anggota FLP Hongkong ikut mengecam seorang ustad muda yang dianggap matre karena mematok tarif dakwah sekian juta dan fasilitas wah yang dianggap memberatkan panitia. Demo tak perlu dilakukan dengan turun ke jalan, tapi cukup dituliskan. Di sinilah saya belajar pada mereka.

Ah, masih banyak teman-teman saya dari aktivis FLP yang memiliki segudang cerita inspiratif. Karena itu, saya tertarik mengikuti alur Munas FLP di Bali akhir bulan ini.

Di depan mata saya, mereka adalah pejuang literasi yang gigih. Mereka menjawab segala persoalan dengan menulis. Dengan karya.

Munas ini memiliki aturan dan seleksi ketat terhadap pemilihan ketua umum baru. Selain punya semangat dakwah, kandidat harus memiliki komitmen kuat pada budaya literasi. Hal ini ditunjukkan dari karya-karya yang pernah dilahirkan.

Maka, secara pribadi saya ingin memilih Sinta Yudhisia sebagai calon ketua umum FLP. Bukan semata saya mengenal baik sosoknya, tapi lebih pada perjuangannya melahirkan banyak penulis cilik dan pengarang remaja atau komitmennya dalam membangun pilar literasi terhadap generasi penerus. Selamat Munas FLP!

Surabaya, 28 Agustus 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 3, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: