Catatan Literasi (13): Pepatah Yunani


Catatan Must Prast

ditelepon istri + cucian tiga bak = langsing

Ilmu itu jangan diemplok dewe (disimpan untuk diri sendiri). Bagikan. Inilah yang selalu saya utarakan di kelas buku populer Sirikit School of Writing. Sudah enam angkatan di kelas ini. Para pesertanya datang dari berbagai kalangan, mulai dokter, pengusaha, guru, dosen, ibu rumah tangga, mahasiswa, PNS, hingga penulis profesional.

Bayangkan jika kita sowan ke toko buku dan mendapati buku how to tentang cara bikin dadar jagung yang mumpluk dan nikmat yang ditulis sendiri oleh pelakunya, tentu bermanfaat sekali. Kita akan mengalami proses transformasi dari para ahli yang memang berkompeten di bidangnya.

Jadi, hal pertama yang saya tekankan kepada mereka adalah membuang cara berpikir bahwa keterampilan menulis itu hanya untuk jurnalis atau pengarang. Mereka punya skill di bidang masing-masing. Yang instruktur yoga menulis buku tentang yoga tradisional. Yang jadi psikolog bikin buku tentang risetnya terhadap berbagai kasus psikologi. Ibu rumah tangga pun bisa membagikan pengalamannya mengkreasi kue apem yang indah dengan cara menuliskannya.

Untuk memompa spirit mereka, saya memberikan contoh bagaimana mendisiplinkan diri menulis sebuah buku, mengatur waktu, dan memperluas jaringan. Keluhan awal yang saya terima nyaris sama: sibuk kerja sehingga sulit memanajemen waktu untuk menulis. Hal selanjutnya adalah pengumpulan bahan tulisan hingga membikin lead yang lugas dan menarik. Saya pikir enam kali tatap muka terasa cepat, namun mereka saya minta menjaga komitmennya untuk merampungkan naskah yang disusun oleh masing-masing individu.

Terhadap para mahasiswa, saya mesti membimbingnya untuk terbiasa menulis bercerita. Maksudnya, menulis hal apa saja yang menarik dengan gaya seperti bercerita. Saya membebaskan mereka untuk menerjang aturan kebahasaan dulu sampai benar-benar mampu bercerita dengan runtut dalam bentuk tulisan. Teori Peter Elbow tentang free writing ini cukup ampuh untuk mendorong masing-masing mau berbagi kisah. Tugas berikutnya adalah menguraikan materi dari tiap bab di outline yang telah disusun dengan bahasa sendiri. Bahasa populer.

Konsistensi dalam menyelesaikan buku adalah sesuatu yang penting. Nah, biasanya poin ini menjadi titik kelemahan beberapa peserta. Namun, ada satu peserta -seorang guru SMA- yang mengaku lebih suka membaca ketimbang menulis. Ia merasa tak percaya diri jika hendak menulis.

Kalau sudah begini, saya hanya memberinya amunisi dari sebuah pepatah Yunani yang terkenal. Yakni, menulis adalah membaca dua kali. Jadi, siapa pun dia, jika sudah melakukan kegiatan membaca, ya harus melakukan kegiatan menulis. Menulis harus menjadi menu reguler setelah membaca. Untunglah kini ia mulai membangun kepercayaan dirinya dengan menulis bercerita. Dengan gayanya sendiri.

Sidoarjo, 27 Agustus 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 3, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: