Catatan Literasi (3): Modus Epigon


Catatan Must Prast

Pesiar ke toko buku kali ini membawa pengalaman yang sama. Saya masih menjumpai buku-buku tiruan (epigon). Pada saat booming Ayat-ayat Cinta dulu, novel-novel epigon mudah saya dapati.

Adik laki-laki Habiburrahman El Shirazy (penulis Ayat-ayat Cinta) pun menelurkan novel Makrifat Cinta. Namanya pun bergaya mirip Kang Abik (sapaan Habiburrahman), yakni Taufiqurrahman El Azizy. Novel senapas lainnya adalah Dzikir-Dzikir Cinta, Syahadat Cinta, Bait-Bait Cinta, Sabda-Sabda Cinta, dan Kasidah-Kasidah Cinta.

Dulu ada pula novel yang merupakan peniruan dari Laskar Pelangi. Judulnya Rumah Pelangi. Saat ini pun masih ada yang niru-niru dengan menggunakan judul yang diawali kata “Laskar”.

Di toko buku tadi, buku-buku epigon yang saya jumpai dari genre buku populer. Wabil khusus buku-buku umum, pendidikan, dan motivasi. Judulnya memakai frasa yang jamak saya lihat. Misalnya, Cara Ampuh bla..bla..bla; Kiat Jitu bla..bla..bla..; Resep Jitu bla..bla..bla; atau Sukses 24 Jam bla..bla..bla.

Pada beberapa kasus, ada buku yang kental sekali epigonnya. Ini bisa dilihat dari judul, tema, alur, hingga pemilihan ilustrasi sampul buku.

Dulu, dalam sebuah tulisannya di Suara Merdeka kalau saya tidak salah, pegiat literasi Agus M. Irkham pernah membeberkan beberapa modus utama epigon. Yakni: ATM (amati, tiru, dan modifikasi) serta Spanyol (separo nyolong/terkait ide, tema, dsb). Penjelasannya seperti di paragraf sebelumnya.

Saya lebih suka menyebut epigon itu sebagai sikap latah. Tak heran, ada berbagai suara miring terkait epigonisme ini. Di antaranya, sangkaan terhadap pengarangnya yang tak punya idealisme, miskinnya daya cipta, malas baca, hingga simpulan bahwa epigon ialah indikasi ketidakberdayaan penulis di hadapan kepentingan penerbit.

Karena itu, saya sepakat dengan pendapat Dukut Imam Widodo bahwa penulis harus percaya diri. “Be your self…!” sengitnya dalam seminar Membangun Budaya Literasi di Unair Ahad lalu (19/8).

Di sisi lain, saya sedih melihat beberapa rekan penulis yang tak kuasa melawan kepentingan penerbit. Mulai tidak jelasnya laporan royalti, pembohongan soal cetak buku, hingga karya epigon demi bisa memuaskan penerbit terkait keuntungan semata.

Tak heran jika kini sulit menemukan karya sastra yang berkualitas di Indonesia. Kebanyakan novel sastra saat ini hanya memenuhi selera pasar demi kepentingan penerbit menumpuk keuntungan ekonomi. Nggak salah sih. Cuma saya berharap penerbit bisa memperkaya keragaman dan kualitas karya sastra di negara ini.

Surabaya, 20 Agustus 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 21, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: