Catatan Literasi (5): Budaya Baca Sastra Zaman Algeemene Middlebare School


Catatan Must Prast

Yup, Algemeene Middelbare School (AMS) atau sekolah setingkat SMA pada masa kolonial Belanda. AMS ini mulai ada pada 1915 dengan lama studi 3-4 tahun.

Sekolah ini diperuntukkan bagi para pelajar keturunan Eropa dan pribumi. Ada tiga jurusan di AMS sebagaimana saya kutip dari blog Kota Toea Magelang (kotatoeamagelang.wordpress.com). Yakni, A1 untuk Sastra Timur, A2 untuk Klasik Barat, dan B untuk ilmu pasti dan alam.

Mengapa saya mengulas AMS? Sebab, saya merinding baca riset Taufiq Ismail terkait lulusan AMS. Hal ini terkait dengan penelitiannya selama Juli hingga Oktober 1997 tentang kegemaran membaca buku sastra. Ia mewawancarai pelajar dari 13 negara.

Pertanyaan yang diajukan adalah: berapa judul buku sastra yang wajib dibaca selama tiga tahun bersekolah? Hasilnya rata-rata pelajar dari negara lain tersebut merupakan pembaca sastra. Di Thailand Selatan, siswa membaca 5 buku sastra, Malaysia dan Singapura 6, Brunei 7, Rusia 12, Kanada 13, Jepang dan Swiss 15, Jerman 22, Prancis dan Belanda 22, serta Amerika 32. Bagaimana dengan siswa Indonesia? “Nol buku sastra!” tulis Taufiq Ismail.

Tentu saja budayawan sekaligus sastrawan itu merasa prihatin dengan hasil risetnya tersebut. Ia bernostalgia ke masa lalu. Membandingkan kewajiban membaca buku sastra pada masa AMS dulu.

“Di AMS dulu, siswa wajib baca 35 buku sastra dalam tiga tahun masa belajarnya. Ada pula bimbingam mengarang sepekan sekali. Artinya, sama saja mereka harus menulis 108 karangan selama tiga tahun bersekolah,” paparnya.

“Hasilnya luar biasa. Yaitu, generasi Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim, Natsir, dan Syarifudin Prawiranegara. Sekarang para siswa mengarang ketika mau kenaikan kelas saja. Sekali setahun, mirip sholat Idul Fitri,” tuturnya prihatin.

Saya tercekat dengan kalimat terakhir Taufiq tersebut. Dan itu fakta yang pernah saya alami sendiri ketika duduk di bangku SMA PGRI Bekasi dulu. Kebetulan saya nekat memilih jurusan bahasa saat masuk kelas 3. Nyatanya, saya dan teman-teman memang dapat tugas mengarang hanya ketika ujian.

Yang lebih nggegirisi lagi adalah tulisan sastrawan Jawa Suparto Brata. Dalam buku Mengubah Takdir lewat Baca dan Tulis, ia dengan gamblang mengutarakan bahwa budaya literasi siswa saat ini amat jauh jika dibandingkan saat ia masih menempuh pendidikan di Sekolah Ongko Loro. Saat itu ia dan kawan sekelasnya sudah diwajibkan mengganyang banyak buku sastra. Iki selevel SD lho!

Sedih juga pagi ini saya mesti sarapan riset Taufiq Ismail dan ulasan Suparto Brata. Karena itu, harapan saya nggak muluk-muluk. Semoga pemangku kebijakan pendidikan di negeri ini mau mengembalikan nostalgia zaman AMS dulu terkait pewajiban bacaan buku-buku sastra. Amiin!

Surabaya, 21 Agustus 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 21, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: