Laporan Seminar Literasi HUT I SSW (6)


Maaf ya!

Catatan Must Prast

Pada Oktober 2012, Dukut diundang ke Nagoya University, Jepang. Alasannya, Dukut menulis buku-buku sejarah yang dinilai penting dan inspiratif. Namun, ia menolak secara halus. “I am not historian,” dalih Dukut.

Tetapi, pihak Nagoya University tak putus asa. Dukut memang selalu merendah dan tak suka disebut seorang sejarawan. “Aku iki wong marketing, gak duwe basic pendidikan sejarah,” kelitnya. Namun, pencinta sejarah tahu reputasi Dukut tentang pengalaman riset dan buku-bukunya.

Hati Dukut akhirnya luluh setelah pihak Nagoya menunjukkan banyak novel Dukut dan terutama buku-buku sejarah kota di Jatim tempo dulu. “Inilah alasan kami mengundang Mr Dukut,” jelas perwakilan Nagoya University. Dukut pun mempromosikan Kota Surabaya dan Malang di hadapan peserta yang ternyata juga ada yang berasal dari beberapa negara Eropa. Tentu saja melalui buku Hikayat Soerabaia Tempo Doeloe dan Malang Tempo Doeloe. Pemaparan kera Ngalam (arek Malang) itu memukau para peserta.

Namun, perjalanan Dukut sebagai penulis cukup berliku. Jauh sebelum ia menikmati honor menulis Rp 650 juta untuk per judul buku. Layaknya suksesor lain di dunia kepenulisan, jalan yang dilalui Dukut tidaklah mulus.

Dukut muda sebenarnya memiliki talenta di bidang melukis. Ia pun mulai menekuni membuat lukisan. Sayangnya, ia mengaku gagal sebagai pelukis. “Lukisan saya nggak laku,” kata kakek tiga cucu tersebut. Akhirnya, ia banting setir menjadi penulis. Jalur yang dipilihnya adalah fiksi.

Ia menulis novel. Suatu kali ia mengirimkan naskah novelnya ke sebuah penerbit besar di Jakarta. Bukannya kabar gembira yang didapat, setelah menunggu lama ia harus menerima fakta bahwa naskahnya ditolak mentah-mentah.

Dengan perasaan agak kecewa, Dukut mengikutkan naskah itu ke lomba penulisan novel di majalah Femina pada 1987. Di luar dugaan, novel itu menyabet juara ketiga sayembara penulisan novel Femina setelah bersaing dengan ribuan naskah lain. Judulnya Raden Ayu Prabawati.

Inilah novel pertama Dukut yang menjadi pendorong untul novel-novelnya yang lain. “Lha kok bisa naskah saya ditolak penerbit, tapi malah jadi juara sayembara novel. Sing goblok sopo ngene iki?” luapnya dengan logat Suroboyo yang kental.

Ternyata, hobi menulis Dukut berpindah ke jalur sejarah. Awalnya, ia merasa prihatin dengan generasi muda yang tidak tahu sejarah kotanya. Karena itu, Dukut tergerak untuk menulis sejarah lampau kota-kota di Jawa Timur seperti Malang, Surabaya, Gresik, Ngawi, Jember, dan Sidoarjo. “Saya hanya ingin anak-anak muda penerus bangsa mengerti jejak sejarah kota itu dan tergerak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat,” ucap pria 59 tahun tersebut.

Kini namanya berkibar sebagai penulis yang disegani. Penerbit yang dulu pernah mencampakkannya pernah sowan ke Dukut. Mereka meminta Dukut menulis buku yang dipesan. Namun, ia menolak. “Sebab, saya sudah punya perusahaan penerbitan sendiri (Dukut Publishing, Red),” tuturnya. Maaf ya!

 Surabaya, 18 Agustus 2013

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 20, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: