Laporan Seminar Literasi HUT I SSW (5)


Mengatur Waktu

Catatan Must Prast

Dalam suatu kesempatan, Much. Khoiri menyatakan orang dengan kesibukan seabrek dan jadwal kegiatan padat namun menyempatkan menulis adalah “orang gila”. Nah, dalam seminar Membangun Budaya Literasi di perpustakaan Unair (18/8), SSW mengundang dua narasumber “gila”. Selain Khoiri sendiri, satu lagi adalah Dukut Imam Widodo.

Dukut maupun Khoiri sama-sama bukanlah penulis nyel. Maksudnya, orang yang benar-benar bekerja menulis buku. Dukut bergelut sebagai profesional di sebuah perusahaan asing, sedangkan Khoiri berprofesi sebagai dosen bahasa Inggris dengan spesialisasi creative writing di Unesa.

Soal kesibukannya, Khoiri membeberkan bahwa dirinya tidak hanya mengajar, tapi juga membuat penelitian, menjadi redaktur media jurusan bahasa Inggris Unesa, menulis jurnal, memeriksa skripsi mahasiswa. Di sisi lain, ia menjadi garda depan terkait kerja sama pembangunan gedung-gedung baru Unesa. “Saat pulang ke rumah, kondisi saya sudah payah betul. Wis tinggal ampasnya,” selorohnya.

Namun, di sinilah kegilaan itu dimulai. Seberat apa pun tugas dan sepayah apa pun fisik, Khoiri bertekad mendisiplinkan diri menulis. “Pokoknya, saya mewajibkan diri sendiri satu hari harus membuat satu tulisan. Kalau tiga hari nggak nulis, ya berarti saya punya utang tiga tulisan,” tegas pria 48 tahun tersebut. Semata-mata ia melakukannya untuk menjaga komitmen menulis. Sebab, ia sadar manfaat menulis yang salah satunya adalah menyehatkan badan.

Dukut pun tak kalah “gila”. Pekerjaan kantor menuntutnya untuk sering bertemu orang asing yang menjadi koleganya. Tak jarang pula ia kerja hingga lembur. Belum lagi perjalanan dinas yang tentu saja menyita waktu. Toh, hal itu tidak menyurutkan hobi Dukut untuk menulis sesuatu yang terkait sejarah tempo dulu.

Dukut mengaku, buku-bukunya seperti Malang Tempo Doeloe, Monggo Dipun Badhog, dan Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan ketelatenan dalam menuliskannya. “Saya melakukan untuk buku-buku itu sudah lebih dari 30 tahun atau hampir separuh usia saya,” ungkap arek Malang kelahiran 8 Juni 1954 tersebut.

Riset ini pun tidak mudah. “Satu foto yang bernilai sejarah bisa saja baru didapatkan setelah berburu selama tujuh tahun,” jelasnya. Butuh perjuangan dan pengorbanan. Beberapa literatur yang dijadikan sumber penulisan buku itu didapat di Belanda.

Dengan segala “kegilaan” itu, Dukut dan Khoiri sepakat soal manajemen waktu untuk menulis. Keduanya memiliki waktu favorit untuk menulis artikel dan buku. Yakni, setelah salat malam sekitar pukul 02.00. “Pikiran fresh pada jam-jam segitu. Menulis di tengah keheningan juga menenangkan. Ide-ide mengalir segar,” ucap Khoiri yang diamini Dukut.

Surabaya, 18.Agustus 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 20, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: