Catatan Literasi (1): Epigon vs Plagiat


Catatan Must Prast

Medio 2008, catatan saya tentang demam Laskar Pelangi dimuat harian Suara Merdeka di Jawa Tengah. Tentu saja saya tergoda untuk menyikapi demam novel karya Andrea Hirata tersebut waktu itu. Betapa tidak, rubrik-rubrik budaya dan resensi di berbagai media ramai mengupas histeria Laskar Pelangi.

Pemberitaannya juga tak kalah panas. Bahkan, bakul gosip di infotainment turut menyebarkan rumor tentang masalah wanita yang kala itu membelit Andrea. Nama pegawai PT Telkom ini pun melejit, baik karena berita positif tentang novelnya maupun berita sampah soal kehidupan pribadinya.

Yang saya sebutkan di opini waktu itu adalah side effect menulis yang dialami Andrea. Berkat melambungkan Belitong dan Bu Muslimah sang guru bersahaja di novelnya, Andrea kerap diundang ke mana-mana sebagai narasumber dan motivator.

Pemda Belitong pun kebagian berkah. Daerah ini kemudian menjadi destinasi wisata terkenal di nusantara. Sebelumnya mungkin sedikit masyarakat yang mengenal keindahan alam Belitong. Secara tidak langsung, Laskar Pelangi berhasil menjadi duta wisata kampung halaman Ikal dan kawan-kawan tersebut.

Saya mengutip sebuah berita bahwa saat itu saja honor Andrea sebagai pembicara melambung. Sampai puluhan juta rupiah per jam. Andrea juga bersaing ketat dalam hal royalti dengan Habiburrahman El Shirazy yang menulis novel Ayat-ayat Cinta.

Andrea sangat beruntung. Laskar Pelanginya merupakan karya pertama dan langsung mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Buku ini kemudian juga difilmkan. Seolah mengikuti jejak novelnya, film Laskar Pelangi meraup sukses besar. Belum cukup di situ, novel ini juga diterjemahkan ke beberapa bahasa asing. Pundi-pundi rupiah terus mengalir ke kantong Andrea. Ia tercatat sebagai salah satu penulis miliarder di Indonesia.

Karena itulah, saya tertarik untuk ikut mengulas sepak terjang Laskar Pelangi ini di Suara Merdeka. Apesnya, ketika menjadi panitia program Untukmu Guruku Jawa Pos 2009 atau setahun kemudian khusus lomba artikel guru, artikel saya tersebut dijiplak mentah-mentah oleh seorang guru SMK.

Ceritanya, saat proses seleksi, artikel guru yang bertitel M.Pd itu lolos untuk dimuat keesokan hari. Sang redaktur opini guru lantas memberikannya kepada saya untuk diedit. Betapa kagetnya saya saat membaca. Isinya persis dengan opini saya di Suara Merdeka. Tak ada satu huruf pun yang berbeda.

Kalau saja waktu itu saya tak ada dan artikel tersebut termuat di Jawa Pos, saya bakal mengomplain si penulis. Pasti. Sebab, plagiat merupakan suatu kejahatan akademik. Namun, ketua program tetap menjatuhkan sanksi kepada yang bersangkutan. Yakni, tindakan tercela itu diberitakan tanpa menyebut nama si guru. Tujuannya, memberi peringatan agar peserta lain tidak coba-coba melakukan plagiat atau kena blacklist.

Saya tertarik pula untuk mengutip pesan Gol a Gong, penulis novel Balada Si Roy. Dalam sebuah seminar literasi di markas FLP Palembang pada 2 Desember 2011, ia menegaskan tabunya tindakan plagiat. “Itu haram hukumnya. Ini persoalan etika. Moral,” tegasnya.

Lebih baik, kata dia, menjadi epigon. Sebagaimana diketahui, pada awal kemunculannya Ayat-ayat Cinta banyak ditiru (epigon) oleh para penulis lain. Mereka menulis novel dengan judul yang senapas, bahkan kover plus nama pengarangnya senada. “Itu tidak apa-apa daripada melakukan plagiat,” ingatnya.

Surabaya, 19 Agustus 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 20, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: