Sokola Rimba dan Pasukan Literasi Butet


Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Saya harus segera mengabari Direktur PPPG Unesa Profesor Luthfiyah Nurlaela. Sebab, pagi ini saya mendapat kiriman buku dari sahabat saya Dhitta Puti Sarasvati (direktur pengembangan program IGI). Yakni, Sokola Rimba (Penerbit Kompas, Mei 2013), yang ditandatangani langsung oleh penulisnya, Butet Manurung. Mengapa? 

Sebab, Bu Lutfi –sapaan Prof Dr Lutfhiyah Nurlaela- juga menjabat sebagai ketua program SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) Unesa. Ia memimpin banyak sarjana yang kini diterjunkan untuk mengajar di Aceh Singkil, Maluku Barat Daya, dan Sumba Timur. Para alumnus SM-3T angkatan pertama kini menjalani kuliah PPG di kampus Lidah Wetan, Surabaya.

Lantas, apa kaitannya? Baru-baru ini Bu Luthfi menggawangi penerbitan buku kedua SM-3T Unesa yang berjudul Jangan Tinggalkan Kami. Buku ini telah diluncurkan dalam kampanye literasi di gedung PPG Unesa pada 29 Juni silam. Peluncurannya bersamaan dengan launching antologi cerpen Adam Panjalu karya para guru dari Ikatan Guru Indonesia (IGI). Jangan Tinggalkan Kami melengkapi pendahulunya, yakni buku Ibu Guru Saya Ingin Membaca (Unesa University Press, 2012). Bu Luthfi dan timnya kini sedang mempersiapkan buku ketiga SM-3T Unesa.

Saya pikir, buku Sokola Rimba ini layak dibedah di gedung PPPG Unesa yang bakal menjadi mabes literacy center milik Unesa. Seperti kampanye literasi akhir Juni lalu, bedah buku Sokola Rimba ini bisa diikuti para guru dan mahasiswa PPG Unesa, termasuk calon peserta SM-3T di mana saja.

Buku Sokola Rimba ini kali pertama diterbitkan oleh Insist Press Jogja pada 2007. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul Jungle School. Isi buku ini adalah catatan harian Butet Manurung selama mengajar suku Orang Rimba di hutan Bukit Duabelas, Jambi.

Perempuan antropolog itu menyebut tempat tersebut mirip di film God Must be Crazy. Saat pertama menjejakkan kaki di Bukit Duabelas, Butet sempat kaget ketika melihat perempuan rimba yang bertelanjang dada. Ya, setelah menikah, perempuan dewasa suku tersebut tidak mengenakan pakaian demi efektivitas. Sebab, mereka menyusui bayi yang lahir hampir setiap tahun (halaman 11). 

Cubo!! Beyikk..!

Banyak pengalaman mengesankan, mengharukan, juga menggelikan yang dialami Butet. Salah satu yang tak terlupakan adalah saat Butet mengikuti suku Rimba mengambil maney rampah (madu lebah). Uniknya, sebelum mengambil itu, ada ritual mengusir hantu kayu. Kayu di sini adalah tempat terdapatnya sarang lebah.

Si dukun pun mulai membaca mantra pengusir hantu kayu.

 

dua lah tiga kiding tegantung

kiding kecil diisi padi

dua tiga bujang tekampung

seorang tidak menolong kanti, adek ooo…iii…

Baris pertama dan kedua ialah sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isinya. Artinya kira-kira: “Ada banyak laki-laki di tempat ini, namun tidak seorang pun bisa menolong, oh adik.” (Halaman 18)

Setelah ritual dengan hantu kayu usai, tinggal menancapkan tangga. Pemanjatnya juga menyanyikan lagu khusus. Tujuannya: merayu induk rampah (ratu lebah) agar tidak menyerbu dan menyengat si pemanjat.

Butet bercerita, lagu merayu ini sangat unik. Kata-katanya romantis, bahkan terkadang sensual, layaknya sedang merayu perempuan untuk dicumbu. Inilah petikan syairnya.

Orang Kerinci mati semalam

Mati ditanam di bawah kandis

Elok nian mimpi semalam

Mimpi memeray susu gadis

Waktu untuk mengambil maney rampah adalah malam hari. Biasanya pukul dua dini hari. Butet sempat panik ketika menemui banyak semut selembedo. ”Kalau digigit oleh selembedo, seperti kena setrum,” tulis Butet.

Madu yang didapat masih melekat di kulit kayu. Bening. Masih ada anak lebahnya yang mirip kepompong putih. Menggeliat-geliat bermandi madu. Butet tiba-tiba disuruh menikmati anak lebah yang mirip ulat kecil itu. ”Cubo!! Beyikk.. (coba, enak),” kata seorang dari suku Rimba. Butet tak kuasa menampik tawaran itu. Dicobalah satu. Apesnya, setelah itu ia diminta lagi mencicipi anak lebah tersebut. Lagi dan lagi. 

Pasukan Literasi

Perjuangan Butet Manurung untuk mencerdaskan anak-anak dari Orang Rimba memang berat dan berliku. Tantangan paling besar bukan hanya medan, tapi juga tentangan dari para orang tua. Mereka menilai sekolah itu seperti musuh. Tak heran, banyak suku Orang Rimba yang tak bisa baca tulis.

Saya terharu sekali ketika melihat di Kick Andy, salah satu anak suku Rimba yang lulus unas tahun ini. Ia orang Rimba pertama yang berhasil melakukannya! Tahu apa yang ia ucapkan? Salah satunya ia berterima kasih kepada Butet Manurung, gurunya yang begitu tulus mengajar anak-anak Rimba di Bukit Duabelas. Ucapan lainnya adalah cita-citanya menjadi guru di Sokola Rimba yang didirikan Butet. Mencerahkan.

Buku Sokola Rimba ini belum separo saya baca. Namun, beberapa kisah di dalamnya berhasil membuat saya menarik napas dalam-dalam. Menegangkan sekaligus mengharukan. Catatan-catatan haran Butet di dalam buku ini sangat inspiratif.

Yang paling utama di sini adalah perjuangan literasi yang amat panjang demi mengentaskan kebodohan. Dan Butet telah melakukannya! Ia berhasil. Ia mampu membentuk pasukan literasi dari anak-anak didiknya yang telah menguasai baca-tulis untuk mengajari anak-anak Rimba lainnya. Luar biasa.

Sekali lagi, saya harus segera mengabari Prof Luthfi. Buku Sokola Rimba ini layak dikupas dan didiskusikan untuk memberikan pencerahan bersama buku SM-3T yang ada. Seperti dikatakan Anies Baswedan dalam pengantarnya di buku ini, demi pendidikan, kita seharusnya tidak mengutuki kegelapan, tapi memberikan pencerahan. Dan Butet telah melakukannya lewat: Literasi.

Sidoarjo-Pekalongan, 5 Agustus 2013

(Terima kasih khusus untuk Dhitta Puti dan Butet Manurung. Anda guru-guru hebat).

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 16, 2013, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: