Radja Nainggolan


Catatan Must Prast

Jujur, saya jealous ketika timnas Malaysia mampu mengadakan friendly game melawan klub raksasa Barcelona. Permainan Harimau Malaya (julukan timnas Malaysia) pun tak terlalu memalukan meski dipaksa sering bertahan.

Bahkan, saat tertinggal lebih dulu lewat gol Cesc Fabregas pada menit ke-33, Malaysia mampu membalas lewat bomber muda Amri Yahyah (40′). Gol Amri juga berkelas. Setelah counter attack cepat, Amri memanfaatkan bola rebound dan melalukan tendangan spekulasi dari jarak sekitar 20 meter. Gawa Barcelona yg dikawal Viktor Valdes pun bergetar. Skor menjadi 1-1 sebelum tiga menit berselang striker anyar Blaugrana (sebutan Barcelona) Neymar memaksimalkan umpan Xavi Hernandez dan mencetak gol lewat skill individu yg ciamik.

Saya hanya melanjutkan menonton laga di Malaysia itu sampai center back Gerard Pique membobol gawang lawan dan skor menjadi 3-1 untuk El Barca (julukan lain Barcelona). Barcelona memang unggul segala-galanya, mulai materi pemain yg berkelas dunia, striker-striker nomor wahid, hingga prestasi di berbagai ajang.

Kendati demikian, timnas Malaysia yg didominasi pemain-pemain muda tak keder. Mereka menghadapi strategi tiki-taka ala Barcelona dengan menerapkan pertahanan gerendel. Walau akhirnya kebobolan juga, sik ra ngisin-ngisini dibandingkan timnas Garuda yg dibantai 0-8 oleh Arsenal serta dilibas dengan skor telak pula oleh Liverpool dan Chelsea.

Timnas kita tampak sekali kedodoran secara fisik ketika laga sudah memasuki separo permainan. Semangat tempurnya juga kurang apabila gawang tim berhasil dijebol lawan. Mungkin kita perlu mengadopsi keuletan Der Panzer (sebutan timbas Jerman) yg tak kenal menyerah sampai menit terakhir.

Beberapa bulan lalu salah satu pemain bintang dari Liga Serie A Italia, Radja Nainggolan, datang ke Indonesia, tanah leluhurnya. Pemain klub Cagliari yg sempat diincar Juventus, Napoli, dan AC Milan tersebut melakukan coaching clinic dan jumpa fans. Ia juga ikut laga persahabatan yg melibatkan Indonesia All-Star.

Radja Nainggolan adalah pemain andalan Italia. Namun, namanya tak asing. Ya, ia memang memiliki darah Sumatera Utara. Tubuhnya gempal. Kekar. Tato khas juga mewarnai tangannya. Beberapa kali aksi Nainggolan mengundang decak kagum. Saya melihat gaya permainannya mirip Genaro Gattuso, gelandang bertenaga badak yg juga legenda AC Milan.

Nainggolan pun mengakui bahwa fisik pemain timnas Indonesia belum bisa dikatakan memggembirakan. Artinya, fisik timnas harus digenjot lebih keras agar stamina para pemain tak kendur saat bermain 90 menit.

Pesan ini seharusnya ditindaklanjuti oleh PSSI. Caranya, melakukan pembinaan sepak bola usia dini dengan terstruktur dan terpola. Kompetisi remaja diperbanyak guna menciptakan iklim kompetisi sebelum kelak mereka terjun ke dunia profesional. Atau pemberian beasiswa sepak bola untuk pemain belia ke akademi sepak bola terkenal seperti Akademi Ajax Amsterdam di Belanda.

Kita tentunya memimpikan memiliki timnas yg kuat dan memutus kemarau prestasi berkepanjangan. Tidak sekadar melalukan langkah instan dengan cara naturalisasi pemain asing. Itu bukan solusi yg tepat. Pembinaan pemain usia dinilah yg mesti diberi porsi perhatian besar.

Malang, 12 Agustus 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 16, 2013, in Olahraga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: