Franceisca Yofie


Catatan Must Prast

Tiga hari sebelum Lebaran atau 5 Agustus lalu, Bandung geger. Gara-garanya, terjadi pembunuhan sadis dengan korban seorang wanita cantik. Ia diketahui bernama Franceisca Yofie.

Perempuan lajang yg akrab disapa Sisca tersebut bekerja sebagai branch manager sebuah perusahaan leasing. Bukan main sadisnya pembunuhan ini. Dua pelaku yg tertangkap CCTV terlihat menyeret korban dengan sepeda motor. Sejauh ratusan meter, ada yg menyebut 500 meter dan ada pula sumber yg mengatakan bahwa korban diseret sejauh 1 kilometer. Mengerikan.

Korban dibacok beberapa kali di tubuhnya sebelum akhirnya diseret secara biadap dengan motor. Polisi sempat kesulitan mengungkap pelaku dalam kasus yg menggemparkan Kota Kembang ini.

Penyelidikan perkara itu menemui titik terang setelah salah satu pelaku, yakni SL, menyerahkan diri. Polisi masih menginvestigasi pelaku tersebut. Juga mengejar satu pelaku lain yg identitasnya sudah terungkap.

Pengungkapan kasus kriminal ini juga terbantu oleh status korban di Facebook sebelum pembunuhan tersebut. Ia marah-marah dan bersumpah serapah terhadap salah satu anggota Polda Jabar. Dikabarkan bahwa korban pernah menjalin cinta dengan anggota Polri itu.

Berdasar keterangan sementara polisi, diduga motif pembunuhan ini adalah dendam. Korps baju cokelat terus berusaha mengungkap kasus tersebut.

Namun, bukan ini yg menarik perhatian saya, melainkan pembunuhan yg kian sadis saja. Mirip kekejaman serdadu Jepang saat pembantaian biadap di Nanjing pada 1937 dalam masa pendudukan Cina. Saat itu wanita disiksa dengan ditusuk payudaranya memakai bayonet sebelum ditembak mati. Para pria setempat dipenggal dengan gembira oleh komandan-komandan pasukan Nippon. Samurai mereka haus darah.

Pada masa sekarang, kekejaman model itu justru kental. Kasus mutilasi yang melibatkan Riyan sang jagal Jombang ternyata bukan yg terakhir. Di Tangerang, seorang perempuan yg kalap tega memotong burung pacarnya. Bukan kiwir-kiwir lho, tapi benar-benar terpotong jles. Tentu saja si korban terancam nggak bisa hoho hihe. Lha piye carane jal?

Kasus pembunuhan terhadap Sisca ini terbilang sangat sadis. Ia diseret ratusan meter dengan posisi tengkurap. Akibatnya, wajahnya rusak. Penuh luka bekas seretan.

Kejadian ini membukakan mata kita bahwa orang yg kalap bisa melakukan apa saja. Termasuk, melakukan pembunuhan dengan cara yang tak terpikirkan sebelumnya.

Mungkin kita perlu merenungi kembali kalimat bijak ini. Yakni, seribu kawan masih sedikit, satu musuh terlalu banyak.

Malang, 11 Agustus 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 16, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: